Pantai Anyer di Akhir Tahun 2008

Menjelang akhir 2008. Jarang-jarang ada hari libur yang berdekatan seperti akhir 2008 ini. Banyaknya hari 'kejepit' membuat banyak karyawan mengajukan cuti hingga bisa menikmati liburan mulai dari tanggal 25 Desember 2008 hingga 5 januari 2009. Kantor saya bahkan memberikan libur dari tanggal tersebut hingga tak harus cuti. Bukan main!


Pantai Anyer yang dipenuhi oleh pengunjungSejak menjelang Natal 2008, Jakarta terasa tak seramai hari-hari biasanya. Apalagi setelah hari Natalnya. "Mirip suasana mau lebaran. Jalanan lancar," terang supir taksi yang saya tumpangi menuju terminal bis Kampung Rambutan. "Kayaknya layak," supir taksi itu meneruskan, "kalau Jakarta dapet 2 kali istirahat seperti ini dalam setahun. Biar bisa fresh setelah habis bekerja." Saya jelas sangat setuju dengan pendapat si supir taksi tersebut.

Hari minggu yang panas, saya menuju Anyer. Tujuan utamanya sih mau ke rumah sanak keluarga. Tapi sekalian juga refreshing, mau mandi di laut. Tadinya saya kuatir jalan menuju pantai anyer bakalan macet panjang seperti biasanya akhir tahun. Kendaraan bisa mengular hingga berkilo-kilo meter. Untung saat itu baru tanggal 28, hingga kemacetan itu tak terlihat. Menjelang sore akhirnya saya sampai di tujuan, dan pergi ke pantai jam 4 sore kemudian.

Jalan menuju pantai AnyerLokasi pantainya tak jauh dari pasar Anyer. Bahkan tak banyak yang tahu, hanya warga sekitar saja yang banyak berenang di situ. Jalan masuknya pun harus lewat gang perkampungan. Kalau bawa kendaraan harus lewat jalur memutar. Suasananya pun tak begitu ramai. Beberapa ratus meter ke belakang, terdapat pabrik pengolahan kayu dan kimia. Bahkan tampak sebuah kapal besar sedang berlabuh di latar belakang.

Pantainya lumayan bersih, tak banyak sampah berceceran, walaupun sebetulnya dekat lokasi pemukiman. Ada beberapa penjual makanan kalau kita lapar. Ada juga pondok tempat duduk-duduk yang disewakan seharga 30 ribu rupiah. Kalau mau duduk di pasir, bisa menyewa tikar seharga 5 ribu. Dan untuk berenang ada penyewaan ban dengan tarip dari 2 ribu sampai 4 ribu. Sayang, tak ada tempat pemandian umum untuk berbasuh setelah berenang. Saya bahkan berjalan dengan pakaian basah kuyup menyusuri pinggir jalan yang ramai hingga jadi bahan tontonan orang dalam kendaraan. Gak hujan kok bisa basah kuyup. Maklum, saya berenang pakai pakaian lengkap bercelana panjang pula. Ha ha ha.***

hotels, trnsportation, accomodation, travel, culinary, indonesia


 

Related Titles

Banner
Advertorial