Jalan-jalan Bali part 8; Jimbaran
Perjalanan meninggalkan Tanah Lot menuju Kuta, sebetulnya tak ada rencana pasti mau ke mana atau mau apa beberapa jam ke depan sambil menunggu boarding penerbangan ke Jakarta, sampai akhirnya teman saya membisikkan bahwa dia akan membawa saya ke tempat yang sangat indah. Seandainya bisikan itu keluar dari mulut seorang wanita, pasti saya sudah terangsang mendengarnya.
Dia bilang akan mengajak saya ke Jimbaran, ke sebuah spot yang tak banyak orang tahu. Mendengar kata Jimbaran, yang terlintas di benak saya adalah ikenangan makan malam sea food di pinggir pantai, saking pinggirnya jilatan ombak hampir mengenai kaki kursi yang saya duduki. Kejadian tersebut saya alami menjelang awal milenium ke 3, jadi sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.
Memasuki wilayah Jimbaran, kami melewati beberapa hotel terkenal, yang mengingatkan saya akan brosur wisata atau iklan di majalah dengan gambar suasana hotel yang memiliki kolam pemandian di pinggir tebing, beratapkan langit dan lantai dari potongan batu hitam. Jenis hotel yang hanya bisa dinikmati kaum yang punya budget tak terbatas untuk traveling.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Setelah melewati jalanan yang tak terlalu besar dengan banyak pepohonan di kiri kanan, teman saya mengarahkan motor menuju pintu masuk sebuah hotel. Kalau tak salah itu hotel milik anak mantan penguasa negeri ini. Di depan pintu masuk, sekawanan satpam dan seorang berpakaian polisi menghentikan kami dan menanyakan tujuan hendak kemana.
Seorang satpam mempersilahkan kami meneruskan perjalanan, alias tak memperbolehkan kami masuk ketika teman saya menyampaikan maksud kedatangan kami adalah untuk melihat laut. Perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalanan kecil tadi, melewati sekumpulan sapi dengan kulit yang bersih, dan akhirnya jalan kecil tadi berakhir di sebuah area yang agak lapang dengan tebing dan pemandangan laut di sebelah kiri.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Saat melihat laut dan pemandangan tebing yang ada di bawah, saya akui spot tersebut memang sangat indah, dan perjalanan ke tempat tersebut merupakan best spot dan penutup yang sangat bagus perjalanan saya di Bali. Sayangnya karena terkendala jadwal pulang yang tak bisa diundur, kami tak sempat menuruni tebing dan menungggu matahari kembali keperaduan. Tapi kami janji, di suatu saat nanti kami akan kembali dan menuruni tebing indah di Jimbaran itu.
















