Jalan-jalan Bali Part 7; Tanah Lot
Perjalanan kembali ke wilayah Kuta kami lewati melalui jalur yang berbeda dengan rute Kuta - Danau Beratan - Singaraja. Kali ini kami melawati jalur Singaraja - Seririt - Busung Biu - Pupuan - Tabanan - Tanah Lot - Kuta - Jimbaran. Selain ingin mencari pemandangan yang berbeda, juga karena ingin menghindari jalanan dengan tikungan yang berliku, karena menurut info dari pemilik losmen, jalur tersebut relatif lebih lurus dan rata, alias tidak turun naik.
Ternyata kenyataannya tidak demikian. Jalur ini sama juga banyak naik-turun nya plus belokan tajamnya, walaupun memang tak separah jalur dari Beratan – Singaraja. Dan yang penting, jalur ini penuh dengan pemandangan indah, dengan hamparan padi hijau dan kuning yang menghampar, serta bukit yang membentangkan pepohonan di bawah, membuat kami menghentikan perjalanan sesekali untuk mengambil gambar spot tersebut. Akibat seringnya saya minta berhenti untuk memotret, teman saya mengingatkan kemungkinan tak akan sempat mampir ke Tanah Lot karena jam 5 saya harus boarding kembali ke Jakarta. Akhirnya, saya siasati mengambil gambar dari atas motor yang tetap melaju, hingga dari hasil foto nya bisa dilihat gambar yang agak goyang dan blur.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Karena belum sempat sarapan sejak dari Lovina, perut kami terasa keroncongan dan memutuskan untuk mencari tempat makan. Tapi ternyata bagi kami yang muslim muncul ke khawatiran tempat makan yang akan kami singgahi menyajikan menu daging B2. Hingga kami memutuskan untuk mencari warung nasi Padang yang bertuliskan muslim. Motor terus melaju, tempat makan yang kami cari akhirnya kami dapati setelah dekat dengan daerah Tanah Lot, yaitu warung sate kambing.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Di tempat ini, sisa-sisa cumi saus Padang yang saya makan di Lovina bereaksi lagi, membuat saya terpaksa nongkrong cukup lama di kamar mandi, untuk mengeluarkan isi perut, padahal saya baru saja selesai makan sate kambing di warung itu.
Sampai di Tanah Lot, kami mencari spot untuk melihat pura dari kejauhan sambil istirahat dan minum sejenak. Di tempat makan ini kami mencari tempat duduk dekat tebing yang bisa melihat pura di atas karang yang termasyur itu dengan jelas. Kami hanya memesan kelapa muda ketika pelayan menghampiri dan menawarkan menu, dan untuk kelapa muda itu kami harus merogoh saku 25 ribu perbuahnya.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Ketika baru turun dari motor tadi saya mendapat telpon dari maskapai penerbangan yang saya gunakan untuk kembali ke Jakarta, mengabarkan bahwa keberangkatan ditunda 2 jam, dan hal tersebut membuat saya agak santai.
Setelah selesai minum es kelapa muda nya kami turun ke bawah untuk melihat pura dari dekat. Tampak beberapa warga berpakaian putih hendak mengadakan upacara adat di Pura tersebut. Dan setelah selesai melihat-lihat akhirnya kami memutuskan meninggalkan Tanah Lot menuju kembali ke Kuta sambil menunggu penerbangan yang akan membawa saya kembali ke Jakarta.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Perjalanan ke bandar udara Ngurah Rai akan segera menutup perjalanan liburan saya di Bali. Oh, ternyata tidak juga, ada perjalanan singkat yang menyenangkan yang akan menutup cerita perjalanan ini.
































