Jalan-jalan Bali Part 6; Pantai Lovina

Perjalanan dari Danau Beratan menuju Singaraja, untuk kemudian menuju pantai Lovina, adalah perjalanan yang terasa paling lama dan menegangkan. Selain karena jaraknya yang cukup jauh, juga karena medan yang harus dilaluinya turun naik melewati lembah dan bukit, berliku-liku dengan belokan yang tajam dan menukik. Namun demikian terdapat beberapa spot yang menarik berupa pemandangan persawahan dan hutan yang bisa dilihat dari ketinggian.

Tiba di Singaraja kami merasa lega karena tak ada lagi jalan menurun dan tikungan tajam. Kota Singaraja ini adalah kota yang bersih dan rapi, tak begitu ramai lalu-lintasnya. Pantai Lovina yang kami tuju sudah tak jauh letaknya dari kota Singaraja ini.

Matahari sudah hampir tenggelam sebelum kami tiba di pantai Lovina, hingga kami harus berpacu dengan waktu mempercepat laju motor, sambil sesekali menanyakan arah menuju ke Pantai. Ketika akhirnya kami tiba di pantai, dan membayar retribusi motor sebesar seribu rupiah, seorang pemuda menghampiri dan menawarkan jasa perahu untuk melihat lumba-lumba esok paginya. Harga yang ditawarkan 60 ribu per orang, minimal 2 orang dan maksimal 4 orang perperahu. Tadinya kami tawar 50 ribu perorang, tapi katanya 60 ribu itu tarif standar yang diterapkan semua pemikik perahu.

Pantai Lovina Pantai Lovina
Pantai Lovina Pantai Lovina
Pantai Lovina Pantai Lovina
Pantai Lovina Pantai Lovina

Selain menawarkan jasa perahu, si anak muda tadi juga menawarkan jasa untuk mencarikan home stay dengan harga yang terjangkau. Home stay yang kami tempati bernama Sander, letaknya tak jauh darp patung lumba-lumba yang ada di pantai Lovina tersebut. Tarif home stay disini 100 ribu rupiah permalamnya. Namun tak seperti home stay di Kuta dan Ubud, disini tak disediakan welcome drink atau pun breakfast. Air panas untuk membuat kopi pun baru diberikan kalau diminta, dalam gelas tanpa sendok. Jadi home stay ini tak kami rekomendasikan, sebaiknya mencari tempat lain yang sedikit lebih mahal - sekitar 150 ribu - tapi tempatnya nyaman dan dengan pelayanan yang baik.

Setelah menyimpan tas di kamar kami segera kembali ke pantai untuk menunggu moment dimana sang surya benar-benar tenggelam ke peraduannya, dan akan terbit lagi ke esokan harinya. Banya orang yang sengaja duduk di sekitar patung lumba-lumba untuk menyaksikan sunset seperti yang saya lakukan. Beberapa diantaranya sibuk mengabadikannya dalam kamera. Sunset di pantai Lovina ini terlihat sangat indah.

Malamnya sebelum tidur untuk bersiap-siap berburu lumba-lumba esok harinya, kami berniat mengisi perut dengan mencari rumah makan seafood yang ada di sekitaran pantai. Tadinya kami berharap ada tempat makan seafood yang seperti di Jimbaran, dimana kami bisa memilih sendiri ikan atau udang yang akan kami makan. Tapi ternyata tempat seperti itu tidak ada.

Sunset di Lovina Sunset di Lovina
Sunset di Lovina Sunset di Lovina
Sunset di Lovina Sunset di Lovina

Setelah berjalan agak jauh dari tempat penginapan akhirnya kami memutuskan makan di restaurant seafood bernama Khi-khi. Kami memesan cumi saus padang, capcay, dan nasi goreng. Cumi saus padang yang disediakan disini berbeda dengan yang biasa saya beli di kafe tenda seafood di Jakarta atau Depok, dimana bumbunya bisa saya habiskan karena lembut walaupun pedas. Tapi disini bumbunya didominasi serpihan cabai merah yang kasar dan rasa pedas yang berlebebihan. Dan nasi gorengnya, datang hanya nasi tok, tanpa krupuk atau sedikit nuansa hijau dari ketimun atau daun slada misalnya. Faktor penampilan benar-benar tak diperhatikan sekali di rumah makan ini. Jadi selain home stay tadi, rumah makan ini pun tidak kami rekomendasikan.

Jam 6 pagi si pemilik perahu datang mengetuk pintu penginapan, dan bilang dia akan menunggu di perahu. Kami pun bergegas cuci muka dan menyusulnya ke pantai. Di pantai beberapa perahu lainnya sudah lebih dulu meninggalkan daratan untuk mencara keberadaan si lumba-lumba. Hingga beberapa menit berlalu dan daratan sudah nampak jauh, ikan yang terkenal bersahabat dengan manusia itu belum juga nampak.

Setelah beberapa lama mengamati keadaan sekitar, si kapten perahu berdiri dengan kepala melihat ke kiri dan kanan, akhirnya kami melihat perahu-perahu lain bergerak cepat menuju ke satu arah. Rupanya di kejauhan tampak si dolphino sudah mulai muncul, dan semua perahu berlomba mendekati agar bisa melihat lebih jelas.

Dan begitulah selama beberapa menit kedepan, setelah muncul sejenak si ikan lalu menghilang. Kami para pemburu lumba-lumba hanya berputar-putar dengan kecepatan rendah sambil menerka-nerka dimana sang superstar akan muncul kemudian. Ketika si ikan muncul di permukaan yang agak jauh, maka semua perahu akan mengejarnya untuk berada di posisi yang paling dekat. Sampai tak terasa matahari semakin panas dan makin meninggi, si ikan semakin jarang ke permukaan. Lalu setelah lebih dari 1 jam berada dilautan kami pun memutuskan kembali ke daratan.

Berburu lumba-lumba Berburu lumba-lumba
Berburu lumba-lumba Berburu lumba-lumba
Berburu lumba-lumba Berburu lumba-lumba
Berburu lumba-lumba Berburu lumba-lumba

Pagi itu ombak memang cukup besar, dan angin bertiup cukup kencang. Menurut si pemilik perahu itulah alasan kenapa si lumba-lumba sedikit sekali muncul ke permukaan. Beda dengan pagi sebelumnya dimana laut tampak lebih tenang, si lumba-lumba banyak bermain di permukaan dan dengan jarak yang tak terlalu jauh dari daratan.

Walaupun sebetulnya kami kurang puas dengan penampilan si lumba-lumba tadi, tapi mau apa lagi, hampir dua jam telah berlalu, makin siang si ikan akan makin jauhdari daratan. Dan kami pun harus berpacu dengan jadwal kami hari ini, menuju ke Tanah Lot dan Jimbaran, dan akhirnya ke Bandara Ngurah Rai sekitar jam 4, karena jam 5 sore, Senin 11 Juli 2011, saya harus kembali terbang ke Jakarta.


 

Related Titles

Banner
Advertorial