Pantai Pangandaran, Green Canyon dan Batu Hiu
Pangandaran terletak di bagian selatan Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Ciamis, dekat dengan perbatasan Jawa Tengah. Wilayah ini pernah terkena tsunami pada tahun 2006 yang lalu, hingga membuat kegiatan pariwisata di derah itu lumpuh. Tapi masyarakat Pangandaran segera bangkit, bergegas membenahi wilayah tersebut, hingga kini tak terlihat lagi tanda-tanda bekas terjadinya serangan dahsyat tsunami di daerah tersebut.
Saya pernah ke Pangandaran sekitar 18 tahun yang lalu, waktu masih anak sekolahan. Waktu itu kondisi pantai wisata tersebut - ya iyalahhh - belum seperti sekarang. Waktu itu seingat saya belum ada penginapan besar dengan banyak lantai dan kamar. Jalanan pun belum seperti sekarang, masih ada jalanan pasir dan tanah. Dan pedagangnya masih terkonsentrasi dekat pantai sebelah hutan lindung. Dan yang palin penting, pantainya tak seramai sekarang.
Perjalanan dimulai pukul sepuluh malam, dan sempat tersendat hingga stag selama kurang lebih 3 jam di area nagreg. Kemacetan itu terjadi karena sistem buka tutup jalan hingga kendaraan hanya bisa jalan seletah diberi kesempatan berjalan. Kemacetan ini menyebabkan keterlambatan kami tiba di tujuan, yang tadinya diperkirakan bisa sampai di Pangandaran sekitar pukul 7 pagi, menjadi pukul 11 siang.
Sekarang pembangunan di pangandaran berkembang pesat. Tempat orang berjualan pakaian dan cinderamata membentang dari ujung ke ujung. Tempat penginapan tersebar di mana-mana. Dari mulai yang home stay, losmen kecil, hingga hotel besar tersedia.
Pantai tempat orang berenang di pantai, memiliki pasir berwarna coklat dan dipadati lalu lintas perahu. Perahu tersebut menunggu penumpang untuk dibawa menjelajah pinggiran hutan lindung yang ada di sana. Ada beberapa spot menarik yang bisa kita lihat bila kita menaiki perahu itu. Ada gua tempat bersarangnya burung walet, ada batu berbentuk kodok, ada kumpulan batu karang yang memecah ombak, dan ada batu yang berbentuk seperti jari, yang terlihat hanya bisa dari samping, tapi bila dilihat dari arah depan seperti menghilang. Konon batu itu merupakan spot untuk bermeditasi bagi orang yang mau minta pesugihan. Setidaknya seperti itu yang diceritakan si pengemudi perahu.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Ombak cukup besar saat kami menaiki perahu, hingga kami terguncang dan terbanting. Sesekali timbul perasaan waswas kalau perahu pecah dihantam ombak, maklum perahu yang digunakan terbuat dari fiberglass. Setelah selesai mengunjungi beberapa spot tersebut, kapten perahu membawa kami ke pantai pasir putih yang ada di hutan lindung.
Di hutan lindung ini kami berkeliling masuk kedalam, melihat koleksi pohon-pohon yang ada disana. Di dalam terdapat beberapa goa yang dulu pernah dipakai pasukan Jepang dalam masa perang dunia ke 2. Goa tersebut ada yang kecil dan ada juga yang panjang. Di goa tersebut banyak terdapat stalagtit dan stalagmit seperti ukiran alam yang sangat indah.
Di dalam sebuah goa yang cukup besar bahkan terdapat sekitar 5 ekor landak yang menghuni goa tersebut. Serta kumpulan kelelawar kecil yang menggantung di langit-langit goa yang berbentuk seperti sebuah aula besar. Selain landak dan kelelawar, banyak pula terdapat monyet dan beberapa ekor rusa yang menjadi daya tarik tambahan di dalam hutan lindung.
Setelah berkeliling sebagian kecil hutan, kegiatan selanjutnya adalah snorkling di pantai pasir putih. Di pantai ini banyak terdapat karang walaupun pasirnya landai. Kalau ada ombak yang besar datang sebetulnya bisa sangat berbahaya karna bisa membuat tubuh terbentur karang. Jangankan terkena karang, terseret pasirpun bisa membuat tangan baret dan lecet, seperti yang saya alami.
Peralatan snorkling yang ada di pantai pasir putih ini tak sebanyak yang ada di pulau Tidung, bahkan beberapa peralatan sudah tak berbentuk sempurna. Kaki katak robek atau masker yang diikat dengan tali banyak kita temui. Jadi kita harus pintar memilih agar peralatan tersebut tidak mengganggu kegiatan snorkling nantinya.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Setelah siangnya puas dengan kegiatan jalan-jalan di laut dengan perahu, lalu jalan-jalan di hutan ketemu monyet, dilanjutkan snorkling dan berenang di pantai pasir putih, maka malamnya paling enak adalah mencari makan makanan khas laut. Ada sebuah spot tempat beberapa warung makan sea food yang banyak dikunjungi. Di tempat ini kita bisa memilih ikan, udang, cumi, dan menimbang seberat yang kita mau, sebelum disajikan dengan menu sesuai yang kita mau.
Green Canyon
Pagi hari sekali, sekitar pukul 6, perjalanan dilanjut menuju area wisata lain yang tak terlalu jauh dari pantai pangandaran, yaitu Green Canyon atau Cukang Taneuh. Perjalan memakan waktu kurang dari satu jam, dan loket bahkan belum dibuka. Pukul 7.30 saat loket dibuka, perjalanan menggunakan perahu menuju lokasi Green Canyon pun dimulai. Perahu fiber hanya bisa memuat 6 orang penumpang plus 2 orang awak perahu, menempuh perjalanan melawan arus air sungai yang berwarna hijau. Biaya naik perahu untuk maksimal 6 orang penumpang adalah Rp. 75.000,- bolak-balik, plus berhenti 10 menit di lokasi tujuan untuk berfoto. Kalau mau berenang dikenakan biaya tambahan sekitar Rp. 25.000,- karena harus ada pemandu yang mendampingi menyebrangi sungai menuju bagian yang lebih jauh lagi.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Green Canyon sebetulnya merupakan sunagi yang diapit ngarai di kanan kirinya, dan tertutup dibagian atasnya hingga berbentuk seperti gua. Di langit-langit terdapat stalagtit dan stalagmit dengan cucuran air yang tak henti-hentinya hingga seperti terasa hujan. Sebagian dari batu karang yang ada di atas patah dan jatuh hingga menutup aliran air sungai. Bagian karang besar yang jatuh itu kini seperti sebuah dermaga kecil di dalam gua. Di atas batu itu lah para pengunjung yang datang banyak berfoto-foto. Maka bisa dibayangkan kalau banyak sekali pengunjung yang datang, maka tak akan tersedia tempat di atas batu tersebut. Itu lah mengapa perjalanan kami dilakukan pagi sekali agar kami tak harus berebut dengan pengunjung lainnya. Dan memang benar saat kami kembali ke titik keberangkatan, sudah banyak bis yang datang dan pengunjung yang berjubel menunggu giliran diberangkatkan.
Batu Hiu
Tujuan berikut sebelum kembali ke Jakarta adalah Pantai batu Hiu. Dinamakan demikian karena ada sebuah batu di yang - katanya - berbentuk hiu. Di pantai ini terdapat taman dengan pemandangan yang sangat menarik, seperti di Bali, begitu kata seorang tukang foto lokal menerangkan pada saya.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Tak banyak orang yang berenang di pantai ini, selain beberapa anak yang berbasah-basahan di ujung jilatan air laut. Pantai ini memang bukan untuk dinikmati untuk berenang, melainkan lebih untuk dinikmati taman dan pemandangannya.
Setelah menikmati Pantai Pangandaran, Green Canyon dan Pantai Batu hiu, sekitar tengah hari akhirnya kami memulai perjalan kembali ke Jakarta melalui jalur yang turun-naik dan berkelok-kelok, dan tiba sekitar tengah malam di ibukota.


























