Pulau Tidung, Primadona Baru Tujuan Wisata Warga Jakarta

Kalau selama ini Bandung atau Puncak Bogor merupakan tujuan wisata favourit warga Jakarta untuk mengisi liburan akhir pekan, tampaknya akan bertambah lagi satu lokasi tujuan favourit tersebut. Lokasi ini masih masuk ke wilayah Provinsi Jakarta, tapi sangat jauh dari hinggar-bingar kemacetan lalu-lintas Jakarta, itu karena untuk menuju lokasi tersebut harus menempuh jalur air menyebrangi lautan.

 

Tujuan wisata tersebut berlokasi di gugusan kepulauan Seribu, tepatnya bernama Pulau Tidung. Pulau ini belakangan sering diulas dalam acara wisata di televisi swasta. Tak heran, efek nya ledakan kunjungan wisata dari warga Jakarta khususnya, dan wilayah sekitar seperti Depok, Bogor, Tangerang dan Bandung, mengguncang pulau yang menyimpan pesona keindahan pantai ini.

Sekarang ini, hampir semua semua rumah penduduk berfungsi ganda sebagai penginapan juga, karena bisa dipastikan persentasi hunian akhir pekan di pulau ini akan terisi seratus persen. Bagi yang belum memesan sebulumnya kemungkinan besar tak akan kebagian kamar atau rumah. Kalau pun ada penduduk yang tak membuka usaha homestay, mereka bisa memanfaatkan kondisi week end yang penuh tersebut dengan membuka usaha penyewaan sepeda, alat snorkling, alat pancing, tempat barbeque, atau jualan cendera mata dan makanan untuk oleh-oleh.

Cara untuk sampai ke Pulau Tidung relatif mudah, bisa dari dermaga Muara Angke atau dari dermaga Pantai Marina Ancol. Minggu pagi kemarin (12/6/11) secara mendadak saya jalan ke pulau ini setelah sebelumnya dihajar kerjaan yang membuat kepala penat, dan sinyal di kepala memunculkan tanda peringatan bahwa saya butuh refreshing.

Minggu dini hari, pagi buta jam 4, saat semua orang terlelap dalam tidur, saya dan seorang teman bertolak dari Depok menuju pantai Marina Ancol. Jalanan jakarta yang sepi membuat saya leluasa memacu motor, melewati jalan Fatmawati - Sudirman - Thamrin - Glodok - dan akhirnya sampai di Ancol jam 5 kurang 5 menit. Saat tiba di loket masuk dan menanyakan harga tiket, sang penjaga menjelaskan bahwa tarif per orang 15 ribu rupiah, tapi kalau sudah jam 5, harga tiket jadi 10 ribu rupiah. Ow, hanya tinggal beberapa menit lagi menunggu, saya bisa menghemat 10 ribu rupiah. Tak heran banyak motor di sekitar pintu masuk, rupanya mereka menunggu harga tiket turun dulu.

Jembatan Cinta Jembatan Cinta
Jembatan Cinta Jembatan Cinta
Jembatan Cinta yang Rusak Jembatan Cinta yang Rusak
Jembatan Cinta yang Rapuh Jembatan yang Ramai

Setelah masuk di area Ancol, kami langsung menuju Dermaga 15 pantai Marina untuk memarkir motor, dan menitipkannya pada satpam yang berjaga di sekitar situ. Dekat dermaga 15 pula lokasi loket penjualan kapal motor menuju Pulau Tidung, yang baru akan dibuka jam 6 pagi, jadi kami harus menunggu sekitar satu jam.

Tak seperti yang banyak saya baca tentang dermaga Muara Angke, di Dermaga Marina kita tak harus melewati pasar ikan yang bau anyir. Saya belum pernah ke dermaga Muara Angke, tapi saya bisa yakin kondisi di dermaga Marina jauh lebih baik dari pada disana. Penumpang pun dibatasi hanya 25 orang saja, dengan menggunakan kapal motor yang lajunya jauh lebih cepat dibanding kapal yang dari Muara Angke. Walau demikian, saya sangat TIDAK MEREKOMENDASIKAN perjalanan melalui dermaga pantai Marina ini. Kenapa? Akan saya beritahukan nanti.

Perjalanan dari Marina ke dimulai sekitar pukul 06.55 dan sampai di Pulau Tidung sekitar jam 08.00 pagi, setelah sebelumnya mampir sejenak di Pulau Untung Jawa dan Pulau Lancang. Kapal kecil dengan dua buah mesin tersebut melaju dengan cepat membelah ombak, hingga membuat para penumpang terguncang-guncang dan perut jadi mual. Ombak yang agak tinggi bahkan bisa membuat kapal seperti terbang, lalu dihempaskan lagi.

Minggu pagi itu kebetulan ada acara Tidung Fun Bike, yang akan dihadiri oleh Bupati, Gubernur dan Menpora. Apakah mereka kemudian jadi datang atau tidak, saya tak tahu. Tiba di depan Home Stay Bu Fida yang sufah dipesan sejak saya masih di Marina, kami tak bisa langsung masuk kamar karena masih terisi orang, dan baru bisa masuk pada pukul 11.00 nanti saat tamu check out untuk pulang. Jadi sementara kami menitipkan saja dulu tas bawaan kami, lalu menyewa alat snorkling dengan biaya sewa 30 ribu dan menuju jembatan cinta yang terkenal itu.

Snorkling ternyata tak semudah yang saya duga, terlebih kalau karet masker tak mau kencang hingga air masih bisa menyusup masuk. Ditambah sepatu katak terlalu ngepas hingga pasir yang masuk susah untuk keluar, dan itu rasanya... sakittttt! Ibarat pepatah 'Duri dalam daging', seperti itulah makna harfiahnya.

Selesai snorkling kami balik ke penginapan yang sudah tak ada tamunya lagi. Penginapannya lumayan enak dan nyaman, dengan satu ruang depan berisi TV dan dispenser untuk air panas, dan satu buah kamar tidur plus AC dan kamar mandi dan tempat tidur springbed yang empuk serta selimut hangat. Di kamar mandi pun sudah tersedia shampoo dan sabun cair. Hanya sikat gigi dan odol saja yang harus kita bawa sendiri. Kalau lupa bawa dari Jakarta pun, bisa dengan mudah kita dapatkan di Pulau Tidung dengan harga tak beda dengan di Jakarta.

Selesai mandi, sudah tersedia makan siang dengan menu yang lumayan menggugah selera, dengan ayam goreng, udang tepung, dan emping. Satu porsi sekali makan dihargai 15 ribu rupaih. Sementara untuk kamar seharga 250 ribu permalam. Selain week end bisa coba ditawar jadi 200 ribu.

Pantai Pulau Tidung Pantai Pulau Tidung
Sunrise di Tidung Ramainya Pulau Tidung
Sampah di Pantai Sampah Dalam Air
Sampah Dimana-mana Suasana Perkampungan

Setelah makan dan tidur siang, jam 4 sore, dengan menggunakan sepeda - dengan harga sewa 15 ribu seharian - kami kembali ke jembatan cinta lagi untuk menyusuri jembatan tersebut menuju Pulau Tidung kecil sambil berburu sunset. Bagi Anda yang tak punya jiwa petualang dan tak berani menghadang bahaya, sebaiknya niat untuk menyebrang ke pulau Tiduk kecil segera Anda batalkan. Jembatan kayu yang namanya terdengar romantis tersebut ternyata tak semulus yang terlihat dari jauh. Banyak lubang dan bagian yang keropos yang berbahaya untuk dilewati. Salah melangkah maka resikonya bisa sangat fatal, Blackberry Anda bisa terendam air garam dan tak berfungsi lagi! Belum lagi gigitan ikan kerapu yang mengintai dari balik batu karang! Dan, oh, yang paling parah lagi, Anda bisa berpapasan dengan songgok sampah yang mengerikan,  yang ditinggalkan begitu saja oleh orang yang melintas di jembatan.

Kondisi di pulau Tidung Kecil pun tak kalah mengenaskan. Pulau yang seharusnya tetap indah bila kita jaga keasriannya, ternoda oleh sampah yang berserakan dimana-mana.

Tak terasa matahari semakin turun. Hanya saja sunset yang kami tunggu tak  sesuai yang kami harapkan karena terhalang awan tebal.

Malamnya kami mencoba mencari tempat bakar ikan dengan mengendarai sepeda berkeliling pinggir pantai. Sayangnya ternyata pesta barbeque hanya ada saat malam minggu saja saat pengunjung memenuhi pulau. Saat malam senin, pengunjung sudah banyak berkurang hingga tak ada penduduk yang menyajikan pesta bakar ikan tersebut. Jadinya hasrat makan ikan bakar tak kesampaian, dan untuk makan malam terpaksa pesan lagi ke ibu pemilik penginapan.

Senin pagi kami bersiap pulang kembali ke Jakarta. Kapal motor akan berangkat sekitar jam 9 pagi, dan loket baru dibuka jam 8 pagi. Ternyata, senin pagi banyak penduduk pulau yang kerja di Jakarta, harus kembali beraktifitas di awal minggu tersebut, setelah sebelumnya menghabiskan week end di kampung halaman. Jadi kapasitas kapal motor yang hanya 25 orang tak bisa menampung semua calon penumpang, dan terpaksa menunda keberangkatan di pukul 2 siang nanti.

Siang harinya kami sudah antri sejak pukul setengah satu, agar bisa kebagian tiket. Namun ternyata saat loket dibuka, kejadiannya tak seperti yang kami bayangkan. Kami yang paling duluan datang dan duduk di depan loket, tak dianggap karena kami bukan penduduk Pulau Tidung. Padahal kami sudah ada dalam waiting list yang ditulis oleh petugas pagi tadi.

Secara tidak tertulis, kapal motor dari dan ke Pantai Marina Ancol yang dikelola oleh Dinas Perhubungan, ternyata diprioritaskan untuk kepentingan penghuni pulau. Pada saat saya berangkat dari Marina, jumlah penumpang tak sampai 25 orang, karena itu kami bisa leluasa berangkat dari sana. Seandainya calon penumpang lebih dari 25 orang, maka kemungkinan para calon penumpang harus penunjukkan kartu identitas, dan siapa yang memiliki KTP Pulau Tidung, dialah yang akan diprioritaskan. Itulah mengapa saya sangat TIDAK merekomendasikan pergi ke pulau Tidung dari Marina, karena sangat riskan bila tak kebagian tiket.

Untuk antri di loket pun, semua calon penumpang harus ikut antri alias tak bisa diwakilkan. Semuanya akan ditanyai nama dan umur, dan akan diabsen satu persatu untuk bisa naik ke atas perahu.

Kembali ke saat antri tiket Tidung - Jakarta tadi, kami yang sudah terdaftar di waiting list, harus dikesampingkan dulu karena ada penduduk yang harus pergi ke Jakarta hari itu juga. Untungnya, dengan bantuan ibu pemilik penginapan, kami akhirnya bisa mendapatkan tiket juga setelah sebelumnya marah-marah dan protes atas ketidaknyamanan tersebut.

Liburan murah yang bisa didapatkan di Pulau Tidung tentunya juga bukan tanpa konsekwensi. Anak-anak yang bermain sambil berteriak-teriak saat kita tidur adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Juga suara mesin motor yang bergemuruh memekakkan telinga, bukan sesuatu yang aneh lagi disana. Pulau tidung memang bukan pulau resort yang tanpa penghuni. Industri pariwista berkembang dengan sendirinya dengan membawa dampak baik dan buruk bagi warga sekitar. Perekonomian yang tumbuh adalah dampak baiknya. Namun kita tak bisa menutup mata terhadap dampak buruknya. Perubahan tata nilai dari penduduk asli akibat pengaruh gaya hidup warga pendatang, adalah sesuatu yang harus diwaspadai. Yang lebih harus disikapi dengan serius juga adalah masalah sampah. Kebiasaan buruk warga sekitar yang kurang bisa menjaga kebersihan pulau, diperparah dengan ketidakpedulian pengunjung yang membawa banyak sampah ke pulau tersebut.

Dengan makin banyaknya pemberitaan tentang pulau Tidung, ditambah jasa pariwisata yang menawarkan perjalanan kesana, maka akan makin deras kunjungan kesana. Semoga warga Pulau Tidung bisa mengantisipasi dampak baik dan buruknya.


 

Related Titles

Banner
Advertorial