Jalan-jalan ke Dunia Fantasi di Musim Hujan

Awal tahun 2011, liburan sekolah baru saja usai. Januari ini hujan sering turun di pagi hari, bahkan terus-menerus sampai siang. Tapi hujan bukan halangan untuk menunaikan rencana untuk teriak-teriak di Dunia Fantasi Ancol, menikmati berbagai wahana pacu jantung, setelah sekian bulan bekerja mencari uang di belantara Jakarta.

Perjalanan dilakukan hari minggu pagi, berangkat dari rumah yang berlokasi Depok pukul jam 8 pagi. Sebetulnya rencana sebelumnya ingin pergi pada hari kerja saja, biar lebih murah dan lrebih sepi. Tapi karena istri tak bisa bolos kerja, terpaksa diundur ke hari Minggu.

Sebelum pergi, beberapa hari sebelumnya kami sudah browsing tentang cara pergi ke Dufan dengan menggunakan angkutan umum. Ada dua cara yang kami dapatkan, yaitu dengan kereta ekonomi AC turun di Stasiun Kota, trus di sambung taksi, atau dengan kereta wisata dari Depok Lama langsung ke Ancol.

Akhirnya kami memilih cara pertama, yaitu dengan kereta ekonomi AC, dengan tarif Rp. 5.500,- perorang, dari stasiun Depok baru ke Stasiun Kota. Sebelumnya, dari rumah kami berangkat menggunakan motor, dam dititipkan di penitipan motor yang banyak tersedia di sekitar stasiun, dengan tarif Rp. 2.500,- seharian.

Setelah sampai di Stasiun Kota, perjalanan di lanjutkan dengan taksi Blue Bird langsung ke Dufan. Dari info yang kami dapat di internet, jarak dari Stasiun Kota ke Dufan tak terlalu jauh, sedangkan untuk menggunakan taksi ada tarif minimalnya, yaitu Rp. 25.000,-.

Ternyata kenyataannya tidak seperti itu. Dari Stasiun Kota ke Dufan, argometer menunjukkan angka di kisaran Rp. 15.000,- dan kita bisa membayarnya senilai itu, tanpa dikenakan biaya minimum. Karena supirnya cukup ramah, kami memberinya tip Rp. 5.000,-. Untuk masuk ke area Ancol, taksi Blue Bird tidak dikenakan biaya, termasuk supir taksinya, karena di depan Dufan itu memang ada pangkalan taksi Blue Bird nya. Saya tidak tahu apakah taksi lain bebas biaya masuk juga.

Di hari libur, tiket masuk terusan ke Dufan ternyata seharga Rp. 150.000,- per orang, termasuk anak di atas 2 tahun dikenakan biaya penuh. Sedangkan hari biasa tiket masuk seharga Rp. 80.000,-

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi lewat, dan pintu gerbang Dufan belum dibuka. Tapi pengunjung sudah banyak yang antri, di bawah awan mendung yang gelap, pertanda akan segera turun hujan.

Dan akhirnya hujan pun turun, mengguyur pengunjung yang banyak diantaranya tidak membawa payung. Hingga akhirnya pintu masuk Dufan terbuka, para pengunjung antri masuk sambil dicap tangannya dibawah guyuran hujan lebat.

Ternyata dalam kondisi hujan, banyak wahana permainan di Dufan yang tak bisa beroperasi, hingga kami harus berkeliling mencari permainan yang bisa dinikmati. Terutama wahana Bianglala, kincir angin raksasa ini sangat sensitif terhadap hujan, bahkan gerimis kecil sekalipun. Ini karena rem roda raksasa yang terbuat dari besi yang terletak di tiang penopangnya, sangat peka terhadap air, hingga kalau basah rem tersebut tak bisa berfungsi hingga Bianglala akan sulit dikendalikan.

Karena banyak wahana yang belum beroperasi, kami akhirnya masuk ke rumah kaca dan rumah miring, yang bisa dimasuki langsung dan tak terpengaruh cuaca. Baru menjelang siang hujan mulai reda, satu persatu wahana bisa beroperasi, termasuk Bianglala. Beberapa wahana baru bisa dinikmati setelah melalui antrian panjang para pengunjung. Jadi, seperti kebanyakan orang bilang, datang ke Dufan lebih banyak habis waktu buat antrinya dari pada buat senang-senangnya.


 

Related Titles

Banner
Advertorial