Jelajah Kawah Ijen-Baluran-Madura-Surabaya

Rencana ke Ijen dan baluran sudah terlintas saat kita selesai trip Malang, waktu itu sudah terpikirkan dengan matang masalah ini sisanya tinggal mencari waktu yang tepat, hingga libur 17an datang bisa dijadikan waktu yang tepat, dan rencanapun disusun satu bulan sebelumnya, mencari-cari informasi dari internet dan rekan2 yang terlebih dahulu berkunjung kesana. Dari sekian informasi yang masuk dan mempertimbangkan masalah waktu maka diputuskan menyewa mobil untuk keliling disana.

 

Masalah Mobil ini menjadi bahan pertimbangan dengan jumlah pesertanya, sedang peserta silih beganti mencancel dadakan hingga mendekati hari H terkumpul 7 orang dari jakarta dan 1 orang dari Malang, ini juga jadi pertimbangan membeli tiket kereta sebelum hari keberangkatan. Dan masalah mobil ini juga beberapakali minta bantuan teman yang kebetulan domisili disurabaya mencari kendaraan. Kalau dihitung2 selama mengatur trip, trip kali ini yang lebih memusingkan.

Jum’at sore kumpul diSt Senen jam 4 sore dengan peserta Ebiet, Ria, Kang Giman, Erni, Deasy, Evi dan Joki yang menunggu diMalang, dan kereta Kertajayapun berangkat tepat jam ½ 5 sore.

Sabtu, 15 Aug 2009
Kereta tiba terlambat 2 jam dari jadwal, yang ada gw jadi panik mengingat mengejar waktu ke Ijennya yang memakan waktu normalnya 5-6 jam. Tiba di St dijemput driver Pak Nurcholis dan Joki yang menunggu sejak jam 7 pagi. Di St kita juga sempat minta bantuan penjaga warung untuk titip beli tiket pulang mengingat loket baru dibuka pada hari H untuk keberangkatan hari yang sama meski dengan harga sedikit dinaikkan.

Mobil kijang yang kita sewapun bergegas meninggalkan St Ps turi, sebelumnya memberitahu pak Nur sebelum kekawah Ijen kita akan mampir ke Blawan untuk mengunjungi spot air terjun, pemandian airpanas dan kebun kopi blawan. Memasuki jalan tol Surabaya dan melintasi lumpur lapindo Surabaya-Porong, disini terjadi kemacetan yang menurut pak Nur sudah biasa dan baru bisa melewatinya setengah jam kemudian, ditengah jalan kita juga berhenti di mini market utuk membeli keperluan logistik dijalan.

Jam 12 siang ketika melintasi probolinggo, kita berhenti dirumah makan Rawon Nguling untuk Makan siang dan Sholat, ini jadi kedua kalinya makan disini bagi gw dan ebiet. 1 jam berlalu kita lanjut jalan lagi sambil sesekali melihat jam karena perjalanan kita masih sangat jauh, dan ditengah jalan mobilpun berjalan tersendat karena ada Karnaval 17-an melintas dijalan raya, inipun terjadi beberapakali ditempat yang berbeda, jadinya waktu semakin molor. Ditambah lagi Pak Nur sempat nyasar saat melewati petigaan bondowoso yang seharusnya belok tapi lurus menuju Situbondo, dari sini baru tau kalau pak Nur tidak tau jalan, alhasi kitapun berputar aluan menuju bondowoso, dan jalurpun mulai menanjak melintasi bukit2 dan hutan kering, dan waktupun semakin sore sepertinya mengunjungi Blawan bakal diskip.

Belajar dari pengalaman disetiap pertigaan pak Nur berhenti bertanya pada orang jalur menuju kawah Ijen, sempat nyasar juga menuju gunung Raung karena tidak adanya plang/rambu informasi.

Dan ketika malam sudah didepan mata, kita masih ada ditengah jalan yan entah ada dimana, apalagi saat memasuki hutan jalanan rusak dan gelap. Ditengah jalan kita salah masuk ke Pos Menara TVRI yang awalnya dikira komplek perumahan PTPN perkebunan Blawan. Untungnya 2 orang penjaganya baik hati, karena nyasar kita bisa numpang sholat dulu dan cari2 informasi jalurnya, menurut mereka jalannya masih jauh dan pemandian airpanas blawan yang kita ingin tuju sudah tutup, buyar sudah membersihkan badan dengan air panas.

Lanjut lagi jalannya saat kita sudah memasuki perkebunan yang dipalang, otomatis kita harus lapor dulu dan daftar disini tidak lupa uang seiklasnya, melintasi perkebunan ini jalan aspalnya sudah rata dan mobil melaju dengan cepat, saat memasuki kota Sempor, rencananya kita ingin cari makan malam dulu disini, namun sulit mencari warung makan yang menyediakan nasi disini. Kita putuskan lanjut saja menuju Paltuding (pos awal naik kekawah Ijen), lagi2 jalannya dipalang oleh pos, lagi2 kita daftar dan uangpun keluar, tapi dapat informasi sedikit kalau pemandian airpanasnya bisa dibuka dengan meminta bantuan petugasnya untuk dibukakan, yang ingin mandi jadi semangat.

Memasuki Blawan jalannya rusak lagi dan sedikit terjal, karena sudah malam penerangan alakadarnya tidak bisa melihat pemadangan sekitar, disini kita melintasi pabrik pembuatan kopi blawan yang rencananya kita akan kunjungi, lanjut berhenti dirumah petugas penjaga menanyakan pak Atok yang kebetulan sedang tidak ditempat, jadinya kita diantar rekannya, tidak lupa kita minta bantuan bu atok untuk menyiapkan makan malam alakadarnya dari yang kita bawa berupa sarden dan mie instant.

Pintu gerbang pemandian airpanas dibuka, tanpa ragu2 lagi kita merendam badan di kolam pemandian yang 24 jam mengalir karena sumbernya dari perut bumi. Rasa pegal dan lelah perjalanan panjang dimobil tadi hilang dengan rendaman air hangat.

Kembali kerumah Pak Atok, makan malampun sudah siap, tanpa basa basi makanan itu kita santap mengingat perut juga belum terisi dari siang tadi, sambil berbincang2 dengan pak Atok kita disambut dengan ramah, bincang2 masalah perkebunan kopi luwak, yang gw baru tau Luwak itu binatang yang hidup dihutan, proses kerjanya kopi luwak itu dimana luwak memilih2 biji kopi yang kuaitas tinggi kemudian dimakannya, lalu kotoran kopinya diambil dibersihkan yang nantinya diproduksi menjadi kopi Luwak.

Berpamitan dengan keluarga pak Atok, kita menuju Paltuding jalannya kembali rusak dan kembali bertemu dengan pos penjaga dan uang seiklasnya melayang lagi, tiba di Paltuding hampir jam 12 malam, kita segera menuju pos lapornya, namun karena sudah larut dan petugasnya sepertinya enggan melayani karena terkantuk, kita di suruh lapor besok saja padahal rencana kita naik keIjen jam 3 pagi mengejar sunrise.

Mencari lapak tidur, atas informasi teman ada sebuah saung yang disediakan gratis bagi pendaki yang akan naik, tapi letaknya ada ditengah2 padang rumput dan agak jauh, apalagi ternyata juga ada kelompok lain yang tidur disana, akhirnya diputuskan buka matras didepan toilet umum agar mudah nantinya packing pagi2, sedang pak Nur tidur didalm mobil yang diparkir tepat didepan toilet.

Minggu, 16 Aug 2009
Siap2 naik jam 3 pagi, yang ada suasana masih hening, tidak ada rombongan lainnya yang bersamaan, perjalanan mendaki sejauh 3 Km pun dimulai dengan penerangan senter saja. Jalurnya sudah ada kita tinggal mengikutinya saja, semakin lama semakin mendaki berkali-kali berhenti menarik nafas apalagi kepala terasa pening karena hanya tidur beberapa jam saja, disetiap jalan juga ada pos untuk istirahat.

Tepat di Km 2, melewati pos penimbangan belerang, tidak ada orang disini jadinya kita lanjut, dan jalurnyapun sudah mulai mendatar, melintasi bukit2 dan penerangan dibantu cahaya malam yang terlihat berkabut hitam. Kita berhenti tepat dijalur dimana biasa para kuli belerang turun ke kawahnya dimana ada sumber asap tebal keluar dari sumber pembakaran belerang. Kita menunggu matahari terbit sambil menahan dingin yang menusuk tulang, saat langit mulai menerang matahari tidak terlihat, rupanya sunrise ada dibalik gunung yang berada dibelakang kita, otomatis kita bergegas lebih naik lagi kearah puncaknya mengejar sunrise, dari sini kawahnya sudah terlihat berupa danau kehijauan dan batu2 belerang kekuning2an, keindahan yang tidak dapat disangsikan lagi, dari puncak ini terbentang pemandangan elok mengelilingi kawahnya serasa ada dipuncak awan, sulit diungkapkan kata2, dari sekian banyak kawah yang dilihat, kawah ijen lah yang terindah. Kitapun bermain dengan bayangan matahari yang memantul kearah kawah suatu keajaiban melihat bayangan kita disebrang kawah.

source image: http://indraji.multiply.com

Dan pengunjung lainpun mulai berdatangan dan ramai, dari turis2 lokal samapai mancanegara, mereka sama2 terpukau dengan keindahan kawah ijen ini. Ditengah2 jalan juga berpapasan dengan penjual ukir belerang yang dibentuk menjadi berbagai rupa seperti binatang atau piala, namun nyatanya sangat rapuh mudah patah.

Saat rekan2 yang lainnya masih sibuk mengabadikan gambar dipuncak, gw, Ebiet dan Ria turun kearah bawah kawah setelah cukup lama menunggu mereka. Berjalan melalui sekitar tebing berhati2 takutnya batunya masih labil terjadi longsor, ditengah jalan berpapasan dengan pengangkut belerang yang memikul beban belerang seberat 60-80 kilo, mereka berjalan mendaki perlahan terkadang mereka meletakannya dulu diarea tertentu sembari mengatur tenaga. Menurut mereka belerang itu dihargai 1 kilonya Rp 600,-, dan biasanya mereka hanya kuat mengangkat satu atau dua kali bolak balik dari kawah kePos penimbangan dibawah tadi.

Tiba dibawah melihat aktifitas explorasi belerang, cairan panas belerang yang disedot dengan pipa2 yang ditampung kedalam tong2 panas lalu disaring keluar cairan belerang itu, hingga dingin dan mengeras lalu dicongkel dan diambil belerangnya diangkut manual oleh kuli2 belerang, dan rupanya asap yang mengepul itu sumbernya dari tong2 penampung tadi yang lubangnya dibuat untuk mengatur arah angin pembuangannya, coba2 mengangkat pikulannya ampun tidak bergerak sama sekali saking beratnya.

Dibawah ini juga danau nan indah tadi terlihat berwarna hijau berkabut, namun jangan coba2 membasuh anggota tubuh apalagi meminumnya, karena tingakt sulfurnya sangat tinggi, bisa mengakibatkan gatal2 dan sakit tenggorakan. Puas explorasi kawahnya, kita kembali keatas, berjalan mendaki melewati tebing2 lagi, namun kali ini kita terkepung asap belerang, kena mata terasa perih hingga menitikan air mata, masuk kepernafasan batuk2 tak berhenti padahal sudah memakai masker yang sudah dibasahi air, sampai2 ebiet dan ria mau pinsan menahannya.

Tiba diatas rekan2 tidak ada, kemungkinan besar mereka kemabli kepaltuding, jadinya perjalanan kita lanjutkan saja turun kepaltuding, sempat berhenti di Pos penimbangan belerang mengisi perut dengan pop mie dan melihat penimbangan belerang yang beratnya 80 kg, turis bule saja smpai geleng-geleng kepala melihatnya.

Belerang-belerang ini menurut mas2 penjaga pos akan diangkut oleh truk ke surabaya utnuk diexplotasi berbagai macam industri seperti obat, pembuatan gula (untuk kristalisasi gula), bahkan menurutnya belerang itu bisa dimakan langsung. Tiba dipos paltuding teman2 sedang sibuk dengan menu makanan mie instant yang dimasak sendiri, menurut mereka terjadi misunderstanding, mereka turun kebawah lebih dulu menganggap kita lebih dulu turun padahal mereka juga ingin turun kebawah kawah.

Jam 1 siang meninggalkan paltuding lewat arah Licin kearah banyuwangi menuju Taman nasioanal Baluran yang masuk ujung barat situbondo, jalannyapun rata karena memang seharusnya rekomended untuk kearah ijen dari jalur ini karena bisa langsung kebali, seperti biasa disetiap jalan yang mebingungkan pak Nur berhenti menanyakan jalannya. Melewati pelabuhan penyebrangan Ketapang menuju bali kita terus kebaratnya, ditengah jalan juga kita mencari santap makan siang sederhana.

Karena kita akan menginap dipantai Bama yg letaknya masuk melalui tengah hutan makanya mempersiapkan bekal ulang, seperti air dan membeli beras untuk dimasak.

Masuk gerbang taman nasioanal baluran posisinya ada dipinggir jalan, lapor dulu dipintu masuk, sembari mencari informasi spot2 apa yang dituju. Sebeum masuk kawasan hutannya kita berhenti dulu dimushola untuk sholat, tidak jauh dari situ ada bangker yang dinamakan goa jepang, dulunya panjang goanya bial disusur mencapai 4 km, namun karena tanahnya amblas akhirnya ditutup.

Selesai sholat perjalanan lanjut lagi mulai memasuki jalur hutan walau jalannya beraspal, sepanjang kanan kiri dipenuhi hutan2 kering yang gampang terbakar bisa dilihat dari sisa2 kebakaran hutannya, kita berjalan perlahan mengamati flora dan fauna sepanjang jalan hingga menemukan padang savana, kita berhenti disini untuk sesi foto seperti berada diafrika, rupanya savana ini yang dimaksud savana Bekol.

Tak jauh dari situ sudah ada beberapa bangunan dan tampak ramai oleh sekelommpok anak motor yang sedang gathering, rupanya disini juga ada penginapan, warung makannya.

Kita turun dari mobil disambut oleh segerombolan kera-kera liar yang mengawasi gerak gerik kita, menuju menara pandang pengawas aktifitas binatang dan laut, jalan menaiki tangggadari situ juga terpasang St pengawas tsunami, naik keatasnya melihat sekeliling kawasan padang savana Bekol, namun tidak terlihat aktifitas binatang liarnya seperti Banteng, merak atau kera, kita hanya melihat lepas dengan mata telanjang.

image source: http://indraji.multiply.com

Kembali kemobil segera bergerak menuju pantai Bama, lokasi terakhir untuk menginap, sepanjang jalan kita mengawasi lagi aktifitas binatang2 yang dilalui seperti lutung hitam, coklat, dan sempat suprise melihat sekumpulan burung merak terbang dari arah semak2 karena terusik dengan ekornya yang panjang menjulai didepan mata sayangnya kejadian itu tidak sempat terekam dikamera saking cepatnya. Dari atas pohon juga sekumpulan burung (entah namanya apa) hinggap satu persatu berdatangan kearah pohon ini yang ternyata dahannya ditumbuhi buah2 yang lebat.

Tiba juga dipantai Bama, kagetnya disini juga ad resortnya walau tak besar, ada restoran pula cmn nampak sepi hanya beberapa pengunjung, begitu mobil parkir dismabut lagi dengan segerombolan kera yang kali ini lebih agresif, duduk2 diatas mobil dan mendekatinya berharap mengambil rampasan makanan didalam mobil, jadinya kita ekstra hati2 menutup rapat2 pintu mobil.

Karena berbau pantai yang laki2 semangat untuk berenang, ganti celana pendek, namun begitu melihat pantainya jadi urung niatan, pantainya surut airnya hingga kita jalan jauh ketengah masih dibawah dengkul, yang ada kita hanya susur pantai kearah utara, apalagi kalau membandingkan dengan pantai2 lain yang dikunjungi sebelumnya tidak terlalu indah. Jalan trus keutara menemukan sekelompok orang yang sedang mancing diair keruh, kita lalu menghabiskan sore itu duduk diatas karang melihat sunrise yang ada dibalik bukit.

Kembali ke mobil, suasana sudah sepi tidak ada lagi pengunjung, rupanya mereka sudah lebih dahulu pergi, rencana buka tenda jadi bahan pertimbangan apalagi mendengar cerita pak Nur tentang kera2 yang ganas itu, mereka tidak sungkan2 mengigit manusia untuk merampas makananan. Kita runding ulang masalah ini dan mengatur ulang rencana, malam itu kita meninggalkan pantai Bama setelah mandi dan sholat magrib, setelah dipikir2 kita minta bantuan pak Nur pagi2 sekali mengantar ke Surabaya menengok jembatan Suramadu.

Meninggalkan pantai Bama dengan aroma mistik, ketika ditangah jalan mobil terkena baret panjang, mungkin penghuni alam sekitar merasa terganggu, jadinya kita tancap gas terus sampai gerbang. Pak Nur trus membawa kita meninggalkan banyuwangi, kita semua tertidur selama perjalanan menuju arah surabaya, lalu kita terbangun saat pak Nur memarkirkan mobilnya disalah satu pantai yang bnyk warungnya, disini kita istirahat sebelum esok jam 4 pagi kita segera menuju surabaya.

Karena sudah terlanjur membeli beras, akhirnya KG inisiatif memasak nasi malam itu, dengan menu sarden lagi dan abon. Masaknya cukup lama karena memakai parafin jadinya sambil menunggu masak jadi tertidur dan dibangunkan setelah siap makan. Malam itu sebagain tidur dimobil sebagaian lagi tidur dibale2 yang ada disekitar area berteman angin malam.

Senin, 17 Aug 2009
Dibangunkan pak Nur jam 3 pagi, kepala jadi pening karena masih ngantuk menurut pak Nur kita lanjutkan tidurnya didalam mobil dijalan, itu juga untuk menghindari kemacetan diprobolinggo apabila ada karnaval lagi seperti saat kita datang. Karena masih ngantuk sepanjang perjalananan melanjutkan tidur, sempat dibangunkan Erni saat melintasi Payton melihat keindahan area dari lampu2 yang menyala.

Terbangun lagi saat mobil berhenti dipom bensin, kita sholat subuh dan meregangkan otot dulu membasuh muka hingga langit mulai terang, selanjut jalan lagi melewati jalur yang sama saat kita datang melewati porong lumpur lapindo namun masih lenggang karena masih pagi. Begitu mau masuk ke Pintu tol Suramadunya, kita berhenti dulu disisi kiri jembatannya untuk melihat Suramadu keseluruhan, disini juga kita santap sarapan dulu mengisi perut sebelum beraktifitas lagi.

Selesai dari situ kita mulai menapaki jembatan Suramadu, masuk pintu tolnya mobil dikenai tarif 30rbu sekali jalan, berbeda dengan motor yang hanya 3rbu saja, dan ternyata jalurnya juga dibedakan dibatasi dengan pagar pembatas, mobil berjalan berlahan2 berharap dapat berhenti ditengah jalan mengambil moment namun rasa takut ditilang polisi juga tidak bsia berbuat banyak berharap ada mobil lain yang ikut berhenti namun sampai ujung tidak ada yang berhenti, padahal dijalur motor dengan mudahnya mereka berhenti berfoto2 disana. Jembatan Suramadu yang panjang sekitar 5,4 Km ini dibangun sejak tahun 2003 dan baru diresmikan juni 2009 ini merupakan jembatan terpanjang diIndonesia yang menghubungkan Madura dan Surabaya.

Sampai diSebrang tepatnya Madura kita mencari kota terdekat sekedar singgah saja hingga pilihan jatuh ke Bangkalan. Kita parkir diMasjid agungnya, tidak jauh dari situ alun2 bangkalan berada, hari itu alun2 nya dipakai untuk upacara 17an jadi kita tidak bisa masuk hanya melihat saja, tanya2 orang setempat mengenai kraton bangakalan, yang ternyata letaknya ada dibelakang masjid Agung. Kembali kemasjid menuju area belakang, disini terdapat pemakaman keluarga kerajaan letaknya didalam dan dibangunkan sebuah rumah teduh, menurut penjaganya kraton bangakalan masih berhubungan dengan kraton Solo, dan masjid agung dulunya adalah kerajaan bangakalan, bisa dilihat dari singgasana dan beduknya yang sisa2 peninggalan kerajaan. Didepan makam ada sebuah sumur, yang airnya konon menurut penjaganya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Dari Bangkalan kita kembali ke Surabaya sekali lagi melewati jembatan Suramadu, kali ini ada mobil lain yang berhenti, karena merasa ada teman kita ikut2an berhenti buru2 foto2 disini sambil lihat sekitar main kucing2an dengan polisi, karena terlalu panik jadinya tidak berlama2 buru2 kembali kemobil tancap gas, tak jauh dari situ diarah berlawanan beberapa mobil sedang ditilang karena berhenti ditengah jalan.

Karena masih ada waktu kita sempatkan mampir ke House of Sampoerna, sebuah meseum yang mengenang perjalananan perusahaan rokok PT Sampoerna dari awal mereka berdiri, karena bentuk arsiteknya yang unik, bangunan ini terkadang dijadikan lokasi prewed untuk pasangan yang akan menikah. Didalam bangunan 2 lantai yang tidak terlalu luas ini, dipajang beberapa barang yang berhubungan dengan aktifitas pembuatan rokoknya, bahkan disajikan juga tumpukan karung tembakaunya. Dietalase juga ditampilkan memorfosis perubahan kemasan rokoknya. Sedang didinding nya dipajang foto2 silsilah keluarga Sampoerna. Naik kelantai 2, didinding sekitar tangga ada poster2 iklan sampoerna yang pernah jaya, namun memasuki lantai 2 dilarang mengambil gambar, darisini kita melihat ruangan besar tempat aktifitas peracikan rokok kretek, disini juga dijual berbagai souvenir.

Keluar dari museumnya, diparkiran ada bus yang ternyata merupakan bus wisata yang bisa mengantar keliling kota tua surabaya namun hanya beroperasi pagi hari. Waktu sudah siang saatnya cari makan siang, hasil rekomendasi temannya Erni cari warung lontong balap Pak Gendut, letaknya tidak jauh dari St Surabaya Pasar Turi, saat menemukannya warungnya ternyata emperan pinggir jalan, disekitar situ banyak juga yang jualan lontong balap namun anehnya yang ramai hanya milik Pak gendut. Duduk didepan saat pak gendutnya meracik lontongnya, yang hanya berupa lontong ditambah tahu dan banyak toge disirma dengna bumbu soto, rasanya biasa saja karena kita lapar porsinya tidak nendang. Masih ada 2 jam sebelum kereta berangkat, kita sempatkan mampir kemall terdekat membeli bekal dikereta juga sekaligus numpang ngadem dari terik panasnya surabaya.

Akhirnya kita diantar ketujuan akhir diSt ps turi, berpamitan dengan Pak Nur dan Joki, masih ada satu jam lagi, ambil tiket pesanan, namun kereta sudah datang jadi buru2 cari no kursi sesuai tiket, yang ingin bersih2 tubuh masih disempatkan, dan suasana kereta lebih ramai dari saat kita berangkat. Dan keretapun meninggalkan St jam ½ 4 sore, ditengah jalan tepatnya St kapuan entah itu dmn, kepala lokomotifnya rusak, otomatis harus diganti dan kita menunggu kiriman lokomtifnya dari St besar terdekat memakan waktu 2 jam, sampai2 kita keluar dari gerbong untuk cari udara segar. Ketika lokomotif baru terpasang kereta berjalan terasa lebih cepat, sepanjang jalan semua tertidur, dan harap2 cemas karena jadwalnya jadi molor karena sebagian berencana langsung masuk kerja pagi itu termasuk gw dan KG yang akhirnya turun diSt Cikarang.

Selama perjalanan banyak mengucapkan terimakasih kepada:
- Rekan2 seperjalanan KG, Evi, Deasy, Erni, Ebiet, Joki dan Ria
- Pak Nurcholis untuk drivingnya
- Penjaga menara TVRI disempor
- Pak Atok dan Ibu untuk makan malamnya
- Penjaga makam Bangkalan

Perkiraan Waktu
Jum'at, 14 Aug 09
16:30-09:00 = Perjalanan Kereta Kertajaya menuju Sby

Sabtu, 15 Aug 09
10:00-12:00 = Dari Sby menuju Rawon Nguling Probolinggo
12:30-13:30 = Kuliner Rawon Nguling
13:30-19:30 = Perjalanan menuju Blawan
19:30-22:00 = Pemandian airpanas dan makan malam
22:00-23:00 = Perjalanan Menuju Paltuding

Minggu, 16 Aug 09
03:00-10:00 = Explore Kawah Ijen
11:00-14:00 = Perjalanan menuju Baluran
15:00-17:00 = Explore Savana Bekol
17:00-19:00 = Explore Pantai Bama
19:00-21:30 = Menuju Pantai diSitubondo

Senin, 17 Aug 09
03:00-08:00 = Situbondo - Suramadu
09:00-10:00 = Explore Bangkalan-Madura
10:00-11:00 = Perjalanan menuju House of Sampoerna
11:00-12:30 = Explore House of Sampoerna
13:00-14:00 = Kuliner Lontong Balap
15:30-08:00 = Perjalanan pulang

Biaya-biaya
Tiket KA Jkt – sby :
Pergi [7] @45.000,- 315,000
Pulang [7]@50.000,- 350,000

Makan (@7.000) – Mandi air panas (@3.000) 80,000
pintu masuk : Ijen – 3 x 50,000

Mobil : 3 hari + Tip 1,150,000
Bensin : 3 hr 304,300
makan u/ P' Nur (driver) 24,000
Tol + parkir 60,000

pintu masuk : T. Nasional (@3.000) 25,000
penginapan Pasir putih 30,000

Tol suramadu PP 60,000
Lontong P' Gendut + Klp Muda 61,000

belanja Makan :
Alfa Mart 21,600
Indo Mart 53,350
beras 6,000
Aqua + Gorengan 20,000 100,950

Total :Rp 2,610,250/8 org = Rp 338.000/org

Source and detail: http://indraji.multiply.com/journal/item/28/Jelajah_Kawah_Ijen-Baluran-Madura-Surabaya

 


 
Banner
Advertorial