Kebun Binatang Ragunan

Kebun Binatang Ragunan Jakarta, bisa jadi adalah tempat rekreasi favorit bagi kelas menengah ke bawah karena tiket masuk yang sangat murah dibanding tempat wisata lainnya yang ada di Jakarta. Tak heran kalau pas saat liburan hari raya, jalanan di sekitar tempat wisata tersebut bisa sangat macet-cet total-tal, alias macet total. Yang datang kesana pun bisa menggunakan alat angkut yang tak biasa digunakan untujk jalan-jalan, yakni naik truk besar dengan muatan penuh orang satu kampung dijejalkan dalam bak kendaraan besar tersebut.


Pada saat kami datang kesana, sebetulnya sedang liburan panjang akhir pekan empat hari, jadi kami pikir bakalan ramai yang datang ke kebun binatang tersebut. Maka kami antisipasi dengan datang pagi hari, sekitar jam 9, saat keadaan belum ramai. Udara Jakarta tampak cerah hari itu, dan mudah-mudahan tidak turun hujan. Menuju ke pintu masuk kami disambut juru foto komersil, jadi seperti selebritis saja layaknya.

Karena masih pagi, belum banyak pengunjung yang datang. Pedagang makanan pun masih banyak yang baru beres-beres lapak buat jualan. Kami langsung berkeliling melihat-lihat binatang yang ada di dalam kebun binatang tersebut. Hal lain yang bisa dinikmati di ragunan ini juga adalah rindang dan teduhnya pepohonan yang banyak tumbuh di dalam, serasa sepertinya wilayah tersebut terpisah dari Jakarta yang panas dan gersang.

Setelah berkeliling melihat-lihat binatang, kami beristirahat sambil menikmati makanan yang konon katanya 'Betawi banget', yaitu kerak telor. Makanan yang satu ini memang bukan jajanan yang umum dan bisa ditemukan di setiap tempat, tapi di ragunan ini penjual kerak telor lumayan banyak.

Setelah beristirahat sejenak, akhirnya kami memutuskan pulang, sambil terdengar dari kejauhan adzan dzuhur mulai terdengar. Setelah melewati gerbang keluar, si tukang potret yang memotret kami saat datang tadi berlari mengejar sambil mengacung-acungkan hasil jepretannya. Ia menawarkan dua buah foto berukuran besar beserta negatifnya dengan harga tiga puluh ribu rupiah. Setelah tawar menawar akhirnya disepakati lima belas ribu untuk kedua foto tersebut. 

Walau terasa lelah setelah berjalan berkeliling, tapi kami bersyukur ternyata masih ada secuil 'hutan lindung' yang teduh di tengah belantara beton metropolitan Jakarta ini. Semoga saja aset berharga tersebut bisa dipelihara hingga bisa dinikmati terus oleh anak cucu kita.

 


 

Related Titles

Banner
Advertorial