Ujung Genteng; Nirwana Pantai Selatan
Akhirnya, kesampaian juga pergi ke Ujung Genteng, walaupun beberapa kali sempat mengalami penundaan keberangkatan karena beberapa hal. Kami percaya, segala sesuatunya sudah ada yang mengatur. Yang kita rencanakan terkadang tidak dapat terlaksana sesuai dengan keinginan kita. Sebagaimana pengalaman sebelumnya, kalau memang belum waktunya, rasanya ada saja halangannya.
Sebelum berangkat sempat was-was melihat kondisi cuaca yang tidak menentu belakangan ini. Hujan deras disertai angin kencang sering mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Kami mendapat informasi sebagian besar obyek wisata yang akan kami kunjungi, kemungkinan besar akan sulit dikunjungi bahkan bisa-bisa tidak dapat dikunjungi apabila hujan turun dengan derasnya. Gimana kalau hujan turun dengan derasnya sewaktu kami berada di Ujung Genteng? Bisa-bisa gagal menikmati pemandangan alam yang memukau. Berbekal rasa optimis, kami percaya saat ini adalah saat terbaik yang dipilihkan olehNya untuk kami dan teman-teman mengunjungi kawasan Ujung Genteng.
Sesuai rencana yang sudah kami sepakati bersama, tepat pukul 6 pagi kendaraan berangkat dari meeting point di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat membawa tiga orang peserta. Mengingat waktu tempuh menuju Ujung Genteng akan memakan waktu cukup lama, karenanya kami sepakat untuk berangkat pagi–pagi Selanjutnya, kendaraan menuju Jalan Jendral Sudirman untuk menjemput tiga orang teman lainnya yang menunggu di daerah Karet dan Bendungan Hilir. Karena hari masih pagi, waktu tempuh dari Jl Percetakan Negara menuju Sudirman hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Tepat pukul 06.30 kendaraan sudah memasuki jalan tol Jalan Gatot Subroto menuju tol Jagorawi. Puji syukur, sampai penjemputan
terakhir tidak ada seorang pesertapun yang datang terlambat, semuanya datang sesuai dengan rencana.
Perjalanan pagi itu cukup lancar, kami tidak mengalami kemacetan di titik rawan macet yaitu daerah Cicurug dan Cibadak. Beberapa orang peserta tidak sempat sarapan di rumah, karenanya mereka menyantap bekal sarapan paginya diatas mobil. Sekitar pukul 9 pagi kendaraan sudah sampai di desa Bagbagan, selanjutnya melewati jembatan Cimandiri menuju Kiara Dua. Dari daerah Bagbagan menuju Ujung Genteng ditempuh sekitar 3 sampai 3 ½ jam lamanya. Keadaan jalan antara Bagbagan menuju Kiara Dua sepanjang 15 km menanjak, terdapat beberapa belokan tajam dan curam. Walaupun begitu, kami disuguhi pemandangan alam yang cukup indah. Di sisi kanan jalan terlihat pesisir pantai Pelabuhan Ratu yang bisa dinikmati dengan jelas dari atas bukit Bagbagan. Kendaraan melewati hutan lindung dan perkebunan teh.
Pemandangan alam di sekitar daerah ini cukup hijau. Menurut penuturan sang pengendara mobil, di hutan lindung ini seringkali terjadi penebangan kayu secara illegal yang mengakibatkan beberapa bagian menjadi tandus dan gundul. Kondisi jalan lumayan bagus,
di Pasir Piring kondisi jalan berlubang disana sini yang membuat laju kendaraan menjadi berkurang karena harus hati-hati menghindari jalan berlubang. Setelah melewati kota-kota kecil Kiara Dua, Jampang Kulon dan Surade, akhirnya setelah menempuh perjalanan dari Jakarta selama kurang lebih kurang 6 ½ jam, kami sampai di salah satu penginapan tepi pantai di
kawasan Ujung Genteng. Begitu turun dari kendaraan, udara panas dan kering langsung menyergap. Setelah meletakkan barang bawaan ke kamar masing-masing, beberapa teman langsung istirahat, sebagian yang lain tanpa mengenal lelah, langsung mencari obyek yang bisa diabadikan dengan kamera Sekitar jam 1, makan siang telah tersedia, kami menyantap makanan bersama-sama di teras sambil memandang ke laut lepas. Karena cuaca sangat panas, setelah makan siang kami langsung mandi dan istirahat. Sekitar pukul 3 siang kami akan melihat cara pembuatan gula kelapa yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap.
Melihat Pembuatan Gula Kelapa
Dengan berjalan kaki, kami berenam di antar oleh petugas penginapan menuju tempat pembuatan gula kelapa. Penduduk Ujung Genteng sebagian besar adalah petani dan nelayan, ada juga yang beralih menjadi penyadap nira untuk dijadikan gula kelapa. Di pemukiman penduduk yang kami datangi sebagian besar warganya adalah pembuat gula kelapa. Sewaktu kami sampai di sebuah rumah penduduk, seorang Ibu sedang mengaduk-aduk gula kelapa yang hampir jadi. Tapi masih memerlukan waktu yang cukup lama sampai pada tahap pencetakan. Kami beranjak kerumah penduduk yang lain, sayangnya rata-rata pembuatan gula kelapa sudah selesai. Kami singgah di salah satu rumah dan mencicipi air kelapa yang menjadi bahan pembuatan gula kelapa yang baru saja diambil dari pohon.
Untuk menampung air kelapa, penduduk menggunakan jerigen atau tabung dari bambu yang diletakan di bagian bunga kelapa (manggar). Di Ujung Genteng, gula kelapa dicetak dengan menggunakan tabung bambu. Kalau di tempat lain dicetak dengan tabung bambu dengan diameter kecil, disini digunakan ukuran tabung bambu lumayan besar. Setelah jadi, satu cetakan menghasilkan gula kelapa dengan berat sekitar 1 Kg .Setelah itu gula kelapa yang sudah jadi dibungkus dengan plastic. Tiap bungkus terdiri dari 12 buah dengan ukuran berat yang berbeda. Kalau kita berminat membeli, mereka menimbangnya terlebih dahulu. Harga per kg-nya Rp. 7.000.- Kami membeli satu bungkus , karena jumlah peserta 6 orang, masing-masing peserta mendapat 2 buah gula kelapa ukuran besar. Setelah itu kami kembali ke penginapan dan sore harinya menuju Pantai Cipanarikan untuk menyaksikan saat-saat mentari kembali ke peraduannya.
Perjalanan Menuju Pantai Cipanarikan Menyaksikan Sunset
Untuk menuju Pantai Cipanarikan, satu-satunya pilihan adalah dengan menggunakan jasa ojek motor yang bisa membawa pengunjung sampai ke lokasi. Di tempat kami menginap, sudah tersedia 6 buah motor yang disewa untuk mengatarkan kami. Jarak dari tempat penginapan menuju Pantai Cipanarikan sekitar 7 km jauhnya, ditempuh sekitar 45 menit. Untuk menuju pantai, jalan yang dilalui merupakan jalan tanah dimana kondisinya becek dengan kondisi tanahnya naik turun. Di samping itu, medan yang harus dilalui lumayan berat, sehingga
mobil tidak mungkin bisa melalui jalan yang sebagian besar ruas jalannya merupakan jalan setapak yang becek dan dipenuhi oleh tetumbuhan liar, lagi pula jalan itu hanya cukup untuk dilewati satu motor saja .Dalam perjalanan, sesekali motor melewati kali kecil. Dari tempat penginapan sampai ke Cibuaya walaupun jalannya naik turun, tapi jalannya masih bisa dilewati mobil. Selepas desa Cibuaya, jalan yang dilalui benar-benar menantang.
Perjalanan dari desa ini melintasi hutan, terkadang motor yang kami tumpangi menembus semak-semak.
Jalan becek yang sebelumnya hanya sesekali kami lewati, selepas desa Cibuaya semakin merajalela. Di jalan ini kami bertemu mobil yang nekat melintas di jalan yang sempit. Pada akhirnya menyerah juga karena tidak dapat melintasi jalan setapak yang dipenuhi dengan semak-semak, mereka memutuskan kembali ke tempat penginapan. Dari tempat penginapan tidak terdapat rambu-rambu arah menuju Pantai Cipanarikan. Jadi , kalau nekat pergi sendiri tanpa ditemani warga setempat, kemungkinan bisa nyasar. Mau tanya? siapa yang bisa ditanya? yang ada cuma semak dan pepohonan sepanjang jalan menuju lokasi.
Beruntung, kami pernah punya pengalaman naik ojek sewaktu dalam perjalanan menuju Loksado (Kalimantan Selatan) rasanya perjalanan menuju Pantai Cipanarikan kalau dibandingkan dengan jalan menuju Loksado masih lebih ringan walaupun rintangan yang dihadapi tentunya berbeda. Kalau di Loksado di kiri kanan jalan adalah jurang dengan kedalaman ratusan meter, maka jalan menuju Panarikan walaupun kondisinya naik turun tapi tanpa jurang di kiri kanan jalan. Belum lagi untuk sampai ke Loksado, kami harus melewati tujuh buah jembatan yang kondisinya sangat menghawatirkan . Dengan bekal pengalaman tersebut, kekhawatiran kami agak berkurang, apalagi para pengendara ojek cukup piawai dalam mengendarai motornya masing-masing. Maklum mereka adalah warga setempat yang tahu seluk beluk jalan menuju ke pantai. Kami melihat beberapa teman menunggu di suatu tempat. Semula kami berpikir ada masalah dengan salah satu motor, sewaktu kami tanyakan kepada pengendara ojek, ternyata kami sudah sampai di Cipanarikan. Bukan pantai yang kami temukan tapi sebuah hutan.
Lalu mana pantainya? Teman kami bertanya kepada salah satu pengendara motor. Mereka meminta kami untuk berjalan sekitar dua ratus meter untuk menuju pantai. Jalan setapak ini tidak bisa lagi dilalui motor, karena jalannya menanjak dan tanjakkannya cukup tinggi. Salah seorang teman berseloroh,mau ke pantai koq jalannya menanjak? enggak salah jalan nich? teman yang lain menimpali. Perjalanan berakhir, ketika kami sampai di ujung bukit dan dibawah sana terbentang Pantai Cipanarikan dengan hamparan pasir putihnya. Pantainya masih cukup bersih dengan ciri khas pesisir pantai selatan yang terkenal bersih airnya dan ombaknya besar. Di sisi sebelah kanan pantai Cipanarikan terdapat sebuah muara sungai dengan airnya yang tenang. Benar-benar pemandangan yang sangat indah. Rasanya perjalanan menuju Pantai ini tidak sia-sia walaupun kami harus melalui berbagai rintangan.
Kami sampai di pantai sekitar jam 5 sore, jadi sinar matahari masih menyengat. Untung ada bukit yang ditumbuhi pepohonan, kesanalah kami berteduh sambil memandang ombak yang bergulung-gulung tanpa henti. Ketika kami sampai di pantai, keadaannya benar-benar sepi. Hanya kami berenam yang sudah tiba disana. Sekitar jam setengah enam sore kami mulai turun ke pantai, dan tidak lama kemudian beberapa orang pengunjung mulai berdatangan mengambil posisi masing-masing untuk mengabadikan saat-saat terbenamnya matahari.
Sambil menunggu matahari terbenam, kami berfoto-foto di pinggir pantai. Sekitar jam enam sore, matahari berangsur-angsur tenggelam. Berarti sudah waktunya kami meninggalkan pantai. Di kejauhan kami melihat para pengendara ojek menunggu kami diatas bukit untuk mengantar kami pulang ke tempat penginapan. Sesampainya di penginapan, kami langsung mandi dan bersiap-siap untuk meneruskan perjalanan selanjutnya. Jam 7 malam, kami santap malam bersama. Setelah itu, kami bersiap-siap menuju Pantai Pangumbahan untuk
menyaksikan penyu bertelur.
Menyaksikan Penyu Bertelur
Perjalanan menuju Pantai Pangumbahan kami tetap menggunakan kendaraan ojek motor. Jalan yang di lalui juga sama dengan jalan yang kami lewati tadi sore sewaktu kami menuju Pantai Panarikan. Jarak ke Pantai Pangumbahan sekitar 5 km dari tempat kami menginap. Dengan hanya diterangi sinar bulan dan bintang, lagi-lagi kami harus melewati jalan tanah setapak yang becek penuh dengan tetumbuhan liar. Sesampainya di tempat penangkaran penyu, kami diminta melapor kepada petugas dan mendapat informasi mengenai tata cara menyaksikan penyu bertelur. Menurut sang petugas, penyu sangat sensitive terhadap cahaya dan juga suara-suara yang dapat mengganggu konsentrasi mereka. Hal ini terutama pada saat sang penyu bergerak dari laut menuju pantai untuk mencari tempat untuk bertelur. Bila terkena cahaya, bisa dipastikan sang penyu akan kembali ke laut dan mengurungkan niatnya untuk bertelur. Bila sudah dalam keadaan posisi sedang bertelur, asal cahaya tidak mengenai bagian depan mukanya, kelihatannya penyu tidak peduli lagi.
Di tempat ini, pengunjung dikenakan biaya Rp. 5.000 per orang. Suasananya sudah cukup ramai dipenuhi oleh pengunjung yang ingin menyaksikan penyu bertelur. Para pengunjung
diminta untuk berkumpul terlebih dahulu di areal kantor penangkaran penyu sebelum diperbolehkan menuju pantai Hal ini harus ditaati oleh semua pengunjung demi kelancaran proses bertelurnya penyu tersebut. Kami cukup lama menunggu di kantor. Kami sudah menunggu kira-kira hampir 1 jam lamanya. Baru sekitar pukul setengah sepuluh malam, petugas memberi izin kepada pengunjung menuju tepi pantai untuk menyaksikan penyu bertelur. Sebagian besar pengunjung langsung mengelilingi sang penyu yang masih mengeluarkan telur Para petugas dengan sigap langsung mengambil telur-telur tersebut dan menaruh di dalam ember besar. Malam itu hanya satu penyu yang bertelur karenanya semua perhatian pengunjung tertuju kepada sang “primadona”. Pengunjung berusaha untuk mendapatkan tempat yang strategis untuk mengabadikan momen ini. Walaupun sudah diperingatkan untuk tidak menyinari mata sang penyu yang sedang bertelur, ternyata masih saja ada pengunjung yang “nakal”. Waktu salah seorang pengunjung menanyakan berapa umur dan panjang badan sang penyu kepada petugas, sebagian besar pengunjung surprise setelah mengetahui umur sang penyu sudah mencapai umur 80 tahun tapi masih produktif. Mengetahui kebingungan kami, sang petugas menambahkan :seekor penyu mulai bertelur pada usia 20 hingga 100 tahun. Sekali bertelur antara 80 sampai 200 butir. Ooooooh gitu toch, terdengar komentar salah satu pengunjung. Teman kami sempat melihat sang penyu mengeluarkan airmata alias menangis sehabis bertelur.
Panjang badan penyu ini sekitar 1,5 meter dan ada satu hal menarik dari sang penyu, ternyata penyu yang sedang bertelur ini invalid. Salah satu kaki bagian belakangnya cacat. Karenanya dibutuhkan waktu lebih lama untuk menutup lubang bekas tempat bertelur yang dilakukan dengan menggunakan kaki bagian belakang. Sewaktu menggali lubang, bagian kaki yang digunakan adalah kaki bagian depan imbuh sang petugas.
Menurut penuturan sang petugas, penyu yang ada di Pangumbahan sebagian besar adalah jenis penyu hijau. Di dunia saat ini hanya ada tujuh jenis penyu yang masih bertahan, enam diantaranya hidup di wilayah Indonesia tersebar di Pantai Selatan Jawa Barat (Pangumbahan dan Cikepuh, Pantai selatan Bali, di Kalimantan Tengah, Pantai selatan Lombok dan di Jawa
Timur tepatnya di Alas Purwo. Dari pembicaraan dengan coordinator penangkaran penyu, ada rencana untuk mengumpulkan ke enam jenis penyu tersebut di satu tempat, kalau tidak salah, tempat yang dipilih adalah Alas Purwo, Jawa Timur.
Sambil menunggu sang penyu menyelesaikan menutup lubang, kami duduk-duduk di pantai menikmati angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi sembari memandang jutaan bintang yang bertebaran di langit yang cerah. Semula kami sepakat ingin menyaksikan sang penyu kembali ke laut. Tetapi karena hari sudah larut malam, dan menurut perkiraan petugas masih dibutuhkan waktu cukup lama sampai lubang bekas tempat bertelur tertutup dengan pasir, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Sampai penginapan sudah pukul 11 malam. Di teras sudah tersedia minuman bajigur hangat dan makanan kecil terdiri dari gorengan sukun, ubi goreng, dan bakwan. Setelah selesai mencicipi hidangan, kami langsung
istirahat menyimpan tenaga untuk esok hari. Besok, medan yang akan kami lalui lebih menantang karena kami akan mengunjungi dua buah curug alias air terjun.
