Catper Pangandaran 26-29 Maret 2009

Teman-teman sekalian, sebelumnya izinkan saya berterima kasih kepada rekan-rekan yang sudah memberikan input mengenai pertanyaan saya sebelumnya sehingga perjalanan saya menyenangkan. Martin Tirta, Mbak Ratna Somantri (cantik sekali Mbak fotonya di majalah Fit), Pak Gunadi atas tipsnya untuk mencari di arsip (saya baru tau caranya, biasanya saya ketik semua “penginapan di pangandaran”), Steve dan Nana Harjanto, Rahmawati, Meilia Handayani, A. Teddy, Andy, Joko Sutarto dan Ibu Sienny dari catatan sebelumnya.


Kamis, 26 Maret 09, saya, suami dan anak saya berangkat pk. 10:00 pagi dari rumah di BSD menjemput kedua orangtua saya di daerah Taman Sari, Kota. Setibanya kami di rumah orang tua, langsung memasukkan barang ke mobil dan berangkat. Kami lewat Sudirman menuju Tol Cikampek dengan tujuan pertama makan pepes di Bendungan Walahar. 

Keluar dari tol Karawang Timur masih dibutuhkan waktu kira-kira 15 menit untuk tiba di Kedai Pepes Haji Dirja. Sepanjang tepian waduk terlihat ramai orang. Banyak yang menggelar tikar di bawah pepohonan bersama keluarga. Para pedagang bersepeda juga banyak menjajakan barang-barang mulai dari baju, mainan anak-anak, buah rambutan sampai kelinci.

Kami tiba di rumah makan tersebut kira-kira pk. 12:30. Ramai sekali pengunjungnya. Awalnya kami duduk di bagian atas, di ruangan yang menyatu dengan Mushola, tetapi anak saya senang bermain di dekat taman. Jadilah kami semua pindah di pendopo bagian bawah dekat kolam ikan.

Biasanya, saya hanya memesan pepes, apalagi pepes jamurnya. Tapi sayang kebetulan sudah habis. Ikan balitanya juga habis….sebagai pengganti kami memesan ayam bakar. Tak menyangka ayam bakarnya empuk sekali. Sambal dan pepesnya seperti biasa, tetap yang paling enak seantero jagat.

Di bagian belakang ada seekor kera besar (bekantan ??). Menurut teteh yang melayani kami, kera tersebut sudah menelan korban 3 buah handphone. Kami sempat melihatnya, kasihan sekali... dengan kurungan yang sempit, kera itu memakan tanah...mungkin saking kelaparan.

Puas dengan kelezatan pepesnya, kami langsung berangkat ke Cipanas, Garut melalui tol Cipularang sampai Cileunyi. Berhenti sebentar membeli tahu goreng @ 300 per buah sekeluar dari pintu tol. Jalan mulus tanpa macet yang berarti kecuali antri kecil di Nagreg. Tetapi kami tidak bisa terlalu cepat karena belum pernah ke Garut sebelumnya. Jadi kami berjalan pelan untuk menghindari putar balik kalau terlewat. Akhirnya kami tiba di penginapan +/- pk. 18:00.

Bagi teman-teman yang belum pernah ke Cipanas, Garut, (seperti saya), mungkin saya bisa berbagi sedikit cerita. Yang disebut wilayah Cipanas, Garut, tempat dimana banyak terdapat hotel atau penginapan, sebenarnya tidak terlalu besar luasnya. Kalau saya perkirakan, bisa dicapai jalan kaki santai dari ujung ke ujung kira2 30 menit satu arah. Lebar badan jalan juga tidak terlalu besar, kira-kira cukup untuk 2 bus saja. Cuacanya sejuk, sehingga tidur tanpa AC pun tidak masalah.

Hanya ada empat hotel yang berbintang disana. Danau Dariza yang bersebrangan dengan Sabda Alam, kemudian Tirtagangga yang bersebelahan dengan Kampung Sumber Alam. Selebihnya hanya penginapan biasa, walaupun ada yang dilengkapi juga dengan kolam renang. Untuk Kampung Sampireun dan Mulih Ka Desa letaknya +/- 10km dari lingkungan ini. Informasi dari penarik delman, untuk tempat main anak-anak yang paling bagus ada di Sabda Alam karena ada waterboom mini. 

Selain keempat hotel ini, selebihnya penginapan biasa yang saling berdampingan. Jadi bisa dikatakan dalam kompleks ini, seluruhnya tempat penginapan dengan bak rendam air panas. Ada satu penginapan yang agak besar juga, dengan letak yang agak berjauhan dari lokasi ini, namanya Hotel Augusta, tetapi menurut informasi yang saya dapatkan, hotel ini tidak menggunakan air panas alam. 

Kami sendiri tidak berhasil booking di keempat hotel tersebut karena memang rencana berangkat cukup mendadak. Tetapi, dengan memperhitungkan bukan hari libur besar, maka kami go show saja. Akhirnya kami menginap di Tirta Alam 2, penginapan pertama yang kami temui begitu masuk wilayah Cipanas. 

Penginapan ini berbentuk semacam bungalow berdempetan yang memanjang. Kira-kira 30m di depannya, terdapat kolam +/- 30x30m yang tidak ada ikannya. Kondisinya kotor dan airnya tidak bergerak.

Kamar kami sendiri terdiri dari dua bed besar ukurang 180 x 200. Kamar mandinya bersih sekali walaupun kami kesulitan karena kloset duduknya tanpa penutup. Air panasnya terus mengalir dan ada juga keran untuk air dingin. Dengan harga 200rb per malam, hanya diberikan satu buah handuk kecil yang masih baru dan satu sabun sekali pakai. 

Anak saya girang bukan kepalang melihat bak rendam yang cukup besar. Saya biarkan dia bermain di dalamnya cukup lama karena airnya hangat... cenderung panas sebenarnya. Begitu selesai mandi, badannya berwarna menjadi kemerahan karena panasnya air. 

Usai mandi, kami pergi makan. Tujuan kami ke Jemanii Resto, sesuai banner besar yang kami lihat sebelum masuk ke wilayah Cipanas. 

Apabila kita masuk ke Jemanii Resto, rasanya kita tidak berada di Garut. Bangunannya kontras dengan lingkungan sekitar. Dengan konsep minimalis, dibangun manis dengan kolam kecil berbentuk parit yang mengelilingi restaurant. Bagian depan, terdapat kolam ikan dan air mancur yang dikelilingi lesehan dan tempat main anak-anak. Bagian belakang, bangunan restaurant biasa dua lantai dengan lampu kuning, sehingga suasananya adem. Terdapat ruang sembahyang kecil bagi teman-teman yang beragama Islam. Toilet cukup lega dan bersih.

Kami memesan variasi makanan. Anak saya makan zuppa sup, orangtua saya memesan chinese food dan saya sendiri ala sunda. Semuanya enak, tetapi yang paling berkesan bagi saya adalah Cah Genjer dan semur jengkolnya…rasanya mantapp… untuk harga reasonable, bahkan bagi kami termasuk cukup murah bila dibandingkan di Jakarta atau Bandung.

Selesai makan, kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Karena berlima, kami memesan satu extra bed seharga 50rb. Ranjang double bednya kami satukan untuk tidur anak kami di tengah. Ranjangnya agak anjlok, spreinya terlihat sudah kusam walaupun tidak berbau. Hanya saja di malam hari, ranjang saya sedikit berderit sewaktu berbalik badan. Suara sholat Subuh juga cukup keras terdengar sehingga membuat saya terbangun. Tetapi hawa sejuk alami berhasil membuat saya tertidur kembali.

Jum’at, 27 Maret 2009
Kami bangun +/- pk. 7:00. Begitu bangun dan keluar kamar, ternyata sudah ada delman yang menunggu. Langsung saja anak saya langsung minta naik delman. Saya janjikan naik delman apabila Lio mau sambil disuapi makan. Saya bertanya kira-kira ada penjual bubur enak di sekitar sana. Kebetulan, di sebrang hotel Cipaganti (bersebrangan dengan hotel kami) ada kedai cukup ramai. Di depannya ada spanduk bertulis „Selera khas Cipanas“. Menurut penarik delman, buburnya paling enak. Selain menjual bubur, ada juga nasi kuning. Ibu saya membeli sedikit bubur 
untuk sekalian menyuapi anak saya sepanjang jalan naik delman. Dan memang buburnya enak. 

Dengan harga Rp. 20,000,- kami diajak berkeliling dari Cipanas, sampai pusat jual oleh-oleh dan kembali lagi ke hotel. Terlihat petani membajak sawah, dikelilingi pemandanganan beberapa gunung. Sungguh pemandangan yang menyegarkan.

Selesai kembali ke hotel, kami bersiap-siap menuju Pangandaran. Kurang lebih pk. 9:15 kami berangkat.

Kami lewat Tasik, Banjar, terus sampai Pangandaran. Sepanjang jalan pemandangannya indah dengan jalan berkelok-kelok. Agak pusing juga sebenarnya. 

Kurang lebih pk. 13:00 kami tiba di gerbang masuk pantai Pangandaran. Setelah membayar tanda masuk Rp. 27.500,- kami langsung mencari Bakmi Acip. Dari gerbang Pangandaran, lurus terus sampai mentok ke pantai, belok kiri. Sepanjang pantai banyak terdapat penginapan. Karena lapar, kami belum sempat melihat-lihat mana kira-kira penginapan yang oke.

Tak lama kami menemukan Mie Acip. Adanya persis di dalam gang sebelah Hotel Laut Biru. Kami memesan mie asin, mie yamin, bihun kuah, ditambah pangsit. Rasanya cukup oke.

Karena malas mencari hotel, akhirnya kami datang ke Aquarium. Laut Biru sudah penuh. Hotel Aquarium terletak tak jauh dari Hotel Laut Biru. +/- hanya 20-an meter. Kami mengambil kamar Deluxe seharga 315rb.

Kamar ini terdiri dari 2 ranjang ukuran 180x200m. Sewaktu kami melihat kondisi kamar, kebetulan AC dihidupkan. Dan saya senang karena Acnya dingin. Kondisi kamar dan toiletnya juga cukup bersih. 

Kedua ranjang tidur terletak berlawanan arah, masing-masing merapat ke tembok. Bagi saya yang punya anak kecil, hal ini justru menguntungkan karena tidak perlu khawatir anak saya terjatuh dari atas ranjang sewaktu tidur.

Kamar mandinya tanpa bathtub, hanya ada shower air panas. Handuknya acceptable walaupun tidak sangat sangat putih. Namun yang kami sukai adalah pelayanannya. Begitu sudah menempati kamar, langsung diberi 4 botol air mineral ukuran sedang. Besok paginya, ditambah lagi 4 botol sewaktu nasi goreng diantar. Nasi gorengnya juga cukup enak.

Kami sempat me-laundry baju kami disini. Hanya beberapa jam sudah selesai, murah pula. Hanya 5,000 per potong kalau tidak salah ingat. 

Hotel Aquarium sendiri lokasinya di Pantai Barat, sudah termasuk wilayah terakhir sebelum cagar alam, menjauhi gerbang Pangandaran. Terdapat kamar ekonomi tanpa AC, kamar deluxe yang seperti kami tempati, dan kamar Family yang tdd 2 kamar Deluxe. 

Di hotel ini juga terdapat kolam renang anak-anak dan dewasa. Taman bermain kecil yang dilengkapi dengan ayunan dan jungkat-jungkit. Apabila kita berjalan keluar dari hotel, depan kita langsung pantai lepas yang bisa buat berenang. Secara overall, saya sangat merekomendasi hotel ini.

Bagi yang belum pernah ke Pangandaran, mungkin saya bisa memberikan sedikit gambaran. Kalau pendapat saya pribadi, yang disebut Pantai Pangandaran, tempat dimana penginapan, cagar alam berada, dan sewa kapal ke pasir putih; kurang lebih seperti tanjung (daratan yang menjorok ke laut). Dan indahnya, di tempat ini kita bisa menikmati matahari terbit dan terbenam sekaligus. 

Pantai yang ramai dikunjungi adalah pantai barat. Disini terdapat banyak penginapan, kapal yang membawa kita ke pasir putih dan cagar alam, serta pantai yang bisa di-renang-i. 

Sedangkan sisi pantai satunya, adalah pantai nelayan dan tidak bisa direnangi. Jarak antara pantai barat dan pantai timur tidak jauh, apalagi dari hotel saya menginap. Untuk melihat matahari terbit, paling-paling hanya jalan santai 30 menit, sudah sampai di Pantai Timur lewat gang samping hotel Laut Biru.

Walaupun di Pantai Timur juga terdapat penginapan, tetapi lebih ramai Pantai Barat. Wilayah bagian tengah, yang notabene tidak menghadap laut, juga terdapat banyak penginapan.

Iseng-iseng mengitari Pangandaran, saya juga mencatat beberapa hotel yang dari luar kelihatan cukup oke :
1. Hotel Century – 0265.639.171
2. Hotel Surya Kencana – 0265.630.965 / 940
3. Hotel Bumi Nusantara – 0265.639.032
Untuk semua hotel ini rate-nya dimulai dari Rp. 300.000,- per malam.

Saya juga melihat Mini Tiga Homestay, yang dengar-dengar pemiliknya bule dan jadi langganan turis mancanegara. Lokasi penginapan ini tidak jauh begitu masuk wilayah Pangandaran.

Lanjut cerita, selesai meletakkan barang, kami langsung dihubungi oleh tukang perahu, mengajak melihat pasir putih. Untuk kami berlima, deal seharga 50rb pulang pergi. Kami langsung berangkat menuju Pasir Putih. Ternyata Pasir Putih tidak jauh dari pantai, paling lama hanya 10 menit naik kapal. Sebelum merapat di Pasir Putih, tukang perahu kami menawarkan melihat lokasi lain lebih jauh, antara lain ada tempat lobster, batu yang dari jauh terlihat seperti orang sedang menyembah dll. Karena belum pernah akhirnya kami setujui. Harga yang diminta 250rb, tetapi setelah tawar-menawar, akhirnya kami membayar Rp. 175.000,-, termasuk Pasir Putihnya. Jujur kami agak kecewa, karena semua tempat yang disebutkan, paling-paling 15 menit sudah selesai semua dikelilingi. Jadi hanya melihat dari jauh saja.

Akhirnya kami berhenti di Pasir Putih. Banyak monyet jinak menunggu makanan dari pengunjung. Informasi dari tukang perahu, apabila berjalan masuk ke dalam, dapat melihat rusa. Tetapi kalau malas masuk ke dalam, cukup ditunggu menjelang sore karena rusanya sendiri juga akan keluar. Tetapi kami tidak masuk ke dalam. 

Di Pasir putih juga bisa snorkling. Tapi karena tidak membawa perlengkapan, kami hanya sibuk memberi makan monyet saja.

Kami tidak lama di Pasir Putih, paling-paling hanya 15 menit saja. Setelah itu kami kembali ke pantai. Sebelum merapat, dari kejauhan kami melihat dua ekor rusa keluar dari cagar alam. Yang satu diam di pantai, yang satunya berlari kegirangan menerjang ombak.

Dari pantai, kami jalan kaki menuju hotel, sempat juga mampir ke suatu areal dekat cagar alam, di belakang hotel tua yang terdapat banyak rusa. Senang rasanya bisa melihat rusa dari jarak dekat.

Selesai mandi dan istirahat sebentar, kami langsung menuju Restaurant Karya Bahari. Karya Bahari ini adanya di Pantai Timur. Dalam kompleks tersebut, banyak terdapat rumah makan lainnya. Tetapi sesuai rekomendasi rekan-rekan yang lain, kami memilih Karya Bahari. 

Pada saat kami datang +/- pk. 18:30, belum banyak pengunjungnya. Jadi kami berkesempatan untuk memilih-milih jenis seafood dan cara masaknya tanpa tergesa-gesa. Begitu selesai memilih dan duduk, mulailah pengunjung lain datang. Sampai akhirnya tamu yang lain harus berdiri untuk menunggu giliran!

Makanannya yang jelas fresh dan murah. Untuk rasa, bagi saya tidak dikategorikan sangat enak. Menunggu mereka masak juga tidak bisa dibilang cepat. Tapi overall ok-lah. Pulang dari Karya Bahari kami langsung tidur…

 

Sabtu, 28 Maret 2009
Jam 6 pagi ayah dan suami saya sudah terbangun, mereka jalan ke Pantai Timur untuk melihat-lihat. Sedangkan saya masih melanjutkan tidur di hotel.

Setengah jam kemudian barulah anak saya bangun. Ibu saya juga penasaran ingin melihat-lihat aktivitas pangandaran di pagi hari. Jadilah Lio keluar ikut Ibu saya. Saya sendiri langsung makan nasi goreng dan ber-beres2.

Pulang dari jalan-jalan, Ibu saya membeli ikan asin, sawo yang harganya sangat murah dibandingkan di Jakarta. Ayah dan suami saya membeli pisang goreng. Pisangnya manisss sekaliii…

Sambil menunggu yang lain selesai mandi, saya mengajak anak saya ke cagar alam. Saya pikir mungkin masih bisa mencari monyet untuk diberi roti tawar yang tidak habis dimakan. Tetapi tidak ada seekor pun. Kata penjaga warung, harus tunggu agak siang. Kalau pagi-pagi masih tidur..

Sekembalinya di hotel, yang lain pun sudah selesai mandi, makan dan berbenah. Akhirnya, kami langsung check-out karena memang hotel tersebut hanya bisa ditempati satu malam. Kami pun masih belum tau apakah ingin menambah satu malam lagi di Pangandaran atau balik ke Garut. Lihat sikon sajalah.

Kami langsung menuju Green Canyon di Cijulang. Dari Pangandaran, kira-kira masih setengah jam naik mobil menuju Green Canyon ini.

Green Canyon terletak di sisi jalan raya, bersebrangan dengan lahan parkir luas. Jadi semua kendaraan parkir dahulu, kemudian menyebrang menuju loket karcis. Harga satu perahu adalah 70,000 untuk kapasitas 5 orang. Beberapa perahu ditambatkan berjajar, jadi setelah membeli karcis, kita akan mendapatkan kupon yang menunjukkan kapal nomor berapa. Para pemilik kapal adalah penduduk sekitar yang diatur oleh kuasa setempat untuk bergiliran mendapat tumpangan.

Kami mulai naik ke kapal. Lebar kursi kurang lebih hanya pas untuk diduduki satu orang dewasa. Jadi kalau lima orang, posisinya adalah memanjang ke belakang.

Saya sudah terhipnotis begitu perahu mulai berjalan. Lebar sungai kurang lebih 30m. Sepanjang kiri kanan sungai, adalah pepohonan pendek yang rimbun. Air sungai berwarna hijau daun. Kebetulan cuacanya agak berawan. Jadi bagi saya, tidak ada lagi yang lebih baik dari kondisi seperti ini.

Kami menemukan seekor kadal yang sedang minum air. Setelah 5 menit berjalan, perahu berbelok ke kanan mengikuti kelok sungai. Tak lama kemudian, dari jauh terlihat gua yang tinggi. Rupanya kesanalah tujuan kami.

Mendekati gua, terlihat air mulai menetes dari tebing. Di ujung gua terlihat sinar matahari. Rupanya bukan gua buntu. Tetapi disinilah semua perahu merapat karena terhalang bebatuan. Pada saat kami tiba, sudah ada banyak perahu disana, kira-kira ada 30an jumlahnya. Ada satu grup besar yang sudah tiba terlebih dahulu. Di sisi kanan, terdapat batu besar untuk melihat ke bagian belakang gua yang tidak terlihat oleh kami dari sisi ini. Luas batu kira-kira untuk 20 orang berdiri. Tapi karena ramai, akhirnya hanya suami saya yang kesana dan mengambil foto. Dari perahu kami untuk menuju batu besar pun harus melewati perahu yang satu ke yang lainnya. Dari foto yang diambil, terlihat terusan sungai yang dikelilingi tebing tinggi yang ditumbuhi pepohonan di atasnya. Banyak yang berenang disana. Saya memasukkan tangan saya ke dalam sungai…dingin sekali….

Salah satu yang membuat saya urung untuk berenang, karena tidak tau bagaimana cara membilas, karena tidak disediakan tempat membilas langsung di lokasi yang sama. Jadi untuk berganti pakaian, harus keluar ke pintu loket, dan mencari sembarang toilet.

Akhirnya kami kembali. Anak saya kegirangan karena saya dudukan di sisi perahu, dan kedua kakinya masuk ke dalam air.

Untuk kembali, kami melewati rute yang sama. Sekembalinya ke tempat awal, kami melihat mulai bertambah banyak perahu yang masuk membawa para pengunjung.

Selesai dari Green Canyon, kami makan sebentar di warung makan di area parkir. Saya suka sekali makan pecelnya. Apalagi menggunakan sejenis helai bunga yang warna merah dadu. Entah apa namanya. Mungkin diantara teman-teman ada yang tau. Pecel menggunakan bunga seperti ini juga saya makan di Batu Raden.

Selesai makan, kami masih menimbang-nimbang, apakah akan melanjutkan ke Batu Karas. Tapi tidak ada yang tertarik. Pendapat kami, pantai kurang lebih sama saja, tidak terlalu jauh berbeda satu dengan yang lainnya. Jadi akhirnya kami sepakat kembali ke Garut.

Kembali ke Garut, kami tidak melewati rute yang sama seperti berangkat. Jadi kami lewat Desa Cikatomas, Panca Tengah, Salopa. Uhhh... jalanannya kurang bagus....tapi secara jarak, kami memang menghemat cukup banyak.

Setibanya di Tasik, kami mencari makan. Kami mulai masuk ke tengah kota. Kebetulan masa kampanye, jadi kendaraan yang konvoi cukup banyak dan bising karena mereka beradu besar ukuran speaker.

Kebetulan kami menemukan ayam goreng Hen-Hen. Jadi kami mampir disini. Rumah makan ini menjual ayam goreng dan ayam bakar saja, ditemani accessories pendamping seperti tahu, tempe, usus, ati, ampla goreng. Istimewanya di sambalnya yang asam segar. Teh hangatnya juga wangi. Kami sempat menanyakan, ternyata merk Sisri dan didapat dari daerah Tangerang, Jakarta. Tapi kok tidak pernah dengar ya teh merk Sisri. Sepertinya „tiruan“ sosro karena jenis huruf dan bentuk logonya sama.

Selesai makan, kami menuju Garut. Tak disangka, baru jalan sebentar, ada pelang bertuliskan Situ Gede. Suami saya mengajak untuk melihat. Ya sudah, mumpung sudah sampai kami mampir sebentar.

Tiket masuk per orang 4000 rupiah dan mobil 2500 rupiah. Yang terlihat hanya semacam danau dengan daratan kecil di tengah. Kami melihat 3 orang menebar jala untuk menangkap ikan dengan tempat yang berjauhan satu sama lain.

Kami turun untuk mengambil foto sebentar. Seorang anak muda mendatangi kami untuk menawarkan keliling menuju ke tengah danau. Akhirnya disepakati 25 ribu.

Suasananya santai dan tidak ramai. Puas rasanya berkeliling walaupun tak lebih dari 20 menit.

Begitu kembali, kami langsung naik mobil dan tancap gas menuju Garut.

Kami tiba di Garut kurang lebih pukul 18:30. Karena lelah, kami langsung pergi makan lagi di Jemanii. Baru setelahnya mencari penginapan.

Kami lupa kalau hari itu malam minggu. Jadi tak heran kalau tingkat huni penginapan-penginap an tersebut lebih tinggi lagi. Sejak awal Ayah saya mengajak untuk menginap di hotel sebelumnya. Tapi karena ingin mencoba hotel lain, maka saya mengajak untuk melihat-lihat dulu ke tempat lainnya. Ada beberapa penginapan yang kami datangi, termasuk Hotel Cipaganti, ternyata penuh. Hotel Cipaganti sendiri lebih terang daripada Tirta Alam yang kami tempati. Jadi terkesan lebih bersih.

Mau tidak mau, kami kembali lagi ke Tirta Alam 2. Eh, ternyata kamar yang kosong adalah kamar yang sama dengan sebelumnya. „Memang kamar ini tungguin kita“, celetuk ayah saya. Anak saya tidak sanggup lagi mandi langsung tertidur.

Minggu, 29 Maret 2009
Pagi ini kami santai-santai saja. Tanpa tujuan apakah mau extend satu malam lagi, atau pindah ke Puncak/Bandung. Tetapi sungguh capek sudah mulai menjalar. Entah karena medan perjalanan, atau saya yang kurang santai karena membawa anak saya, mengkhawatirkan susah makannya.

Seperti sebelumnya, pagi-pagi kami langsung naik delman berkeliling. Menunya pun sama, bubur ayam dari „Selera khas Cipanas“.

Selesai naik delman, baru semua sepakat ingin pulang ke Jakarta saja, tapi mampir dulu beli oleh-oleh. Akhirnya kami mampir ke Aji Rasa, yang menurut penarik delman punya koleksi camilan paling lengkap.

Dilayani ramah oleh pemilik toko, kami pun mengobrol. Dari obrolan tersebut, kami diinfokan ada Situ Bagendit yang biasanya ramai selain Situ Cangkuang. Untuk menuju Situ Cangkuang pun tidak perlu kembali ke arah yang sebelumnya.

Akhirnya kami mampir ke Situ Bagendit. Ternyata Situ Bagendit ini adalah obyek wisata untuk penduduk Garut. Banyak yang berjualan disana dengan menu yang kurang lebih sama. Indomie, kopi, mie bakso. Ada permainan bebek air, rakit dan kereta api mini pula. Tiket masuk 2,000 per orang.

Banyak yang menawarkan anak-anak untuk main pancing2an. Kalau tidak salah ingat, 5000 sepuasnya. Jadi diberikan pancing yang mengandung magnet di bak kecil +/- 1 x 1m. Saya menyuapi anak saya disini sambil dia memancing ikan mainan.

Selesai dari Situ Bagendit, kami menuju Cangkuang. Sebenarnya, kami tidak bermaksud pergi ke Candi atau Situ Cangkuang, tetapi karena kami tau bahwa rute pulang harus melewati Cangkuang, maka sewaktu kami bertanya arah, yang kami tanyakan adalah kemana arah Cangkuang.

Pulang dari Situ Bagendit ke Cileunyi melewati jalur datang, ternyata jalan potongnya tak jauh dari arah berbelok masuk ke Candi Cangkuang itu sendiri. Di tengah jalan ada baliho bertulis Rumah Makan Sari Cobek. Karena sudah hampir waktu makan siang dan khawatir tidak tau dimana makan yang cukup enak, ya sudah karena semua sepakat akhirnya kami semua menuju rumah makan tersebut.

Dari jalan raya menuju rumah makan Sari Cobek cukup jauh. Kurang lebih 15 menit melewati persawahan. Ada satu rumah yang mempunyai beberapa kolam besar tempat membiakan bunga teratai. Indah sekali.

Sesampainya di rumah makan Sari Cobek, dari depan terlihat biasa saja, sebelahnya ada rumah yang sedang di renovasi. Begitu masuk ke dalam, terlihat kolam ikan di sebelah kanan yang membatasi halaman dengan ruang receptionist. Setelah ruang receptionist, barulah terlihat rumah makan ini.

Rumah makan ini menempati lahan kira-kira 100 x 100 meter. Ditengah-tengah terdapat kolam ikan besar dengan air mancur dan tanaman air yang tumbuh tinggi. Saung-saung ditata disekeliling kolam. Setiap saung berdiri diatas kolam. Suasananya adem dan jarah antara saung yang satu dengan yang lainnya tidak terlalu dekat. Apik sekali. Anak saya senang berkeliling tempat ini. Jadi kalau dia mulai dari arah kiri, maka dia akan tiba dari arah kanan. Saya juga dipinjamkan kuda-kudaan dari rotan untuk dinaiki anak saya sewaktu disuapi makan.

Cukup banyak menu yang ditawarkan. Kami juga memesan Gurame Cobek yang menjadi spesialis rumah makan ini. Ada satu jenis bumbu yang sangat mendominasi Gurame Cobek dan Tahu Cobeknya (saya tidak tau namanya...payah ya..), sehingga bagi saya, mengurangi kenikmatannya. Tetapi oleh orang tua saya, hal ini diinformasikan ke receptionist sebagai input/pendapat dari tamu. Tetapi secara overall, semua rasa makanannya enak, harganya pun murah. Saya berkesan dengan jengkol goreng dan telur goreng asam manis. Jengkolnya hanya digoreng biasa dan ditaburi garam. Sedangkan kombinasi rasa dari rasa asam manis telur gorengnya pas dan rasanya kuat. Recomendedlah dari segi rasa, lokasi dan harga.

Restaurant ini juga sedang renovasi untuk menambah kamar. Ternyata ada penginapan juga selain rumah makan. Tapi kami tidak bertanya berapa harga per malam.

Selesai makan, kami iseng ingin pergi melihat Situ Cangkuang. Oleh penjaga parkir hanya menunjuk saja, „kesana Bu“. Tapi karena mendung, saya khawatir hujan. Dan kita juga tidak tau berapa jauh, maka kami naik mobil. Begitu membayar parkir, suami saya sekali lagi menanyakan lokasi Situ Cangkuang, ternyata persis berdampingan dengan Rumah makan Sari Cobek ini !

Kami hanya melongok sebentar untuk melihat seperti apa. Tapi sama juga seperti Situ Gede dan Situ Bagendit. Jadi kami putuskan tidak usah masuk.

Akhirnya kami pun pulang. Masuk di Jakarta +/- pk 17:00.

Liburan ini sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Namun saya kira, perlu saya tambahkan catatan sebagai kritik yang membangun. Mungkin diantara teman-teman sekalian ada yang mampu dan berkesempatan untuk memperbaiki kekurangan yang ada :

1. Papan penunjuk jalan sangat sangat sangat minim, sehingga kami perlu bertanya beberapa kali untuk menuju ke suatu lokasi. Cipanas Garut, arah Pangandaran, Situ Gede, Situ Bagendit, Situ Cangkuang dll. hanya disediakan sekedarnya saja. Saya hanya perlu mengikuti petunjuk ke arah Pangandaran tanpa bertanya setelah hampir 10km masuk Pangandaran. Plangnya menyatu dengan iklan rokok Djarum. Lumayan juga kalau banyak produsen yang mau memberi sponsor untuk lokasi wisata. Kekurangan penunjuk arah cukup menyulitkan bagi yang berpergian pertama kali. Seharusnya setiap jalan bercabang disediakan papan penunjuk arah.

2. Toilet yang tersedia sepanjang jalan sangat sangat sangat JOROK...haduh. ...rasanya illfeel banget mengenai hal yang satu ini. Mulai dari antri toilet sudah harus tutup hidung, selama dalam toilet, harus bernafas sambil ditutup rapat-rapat. Pilihan lain, memakai balsam tebal-tebal di hidung. Nelangsa sekali. Belum lagi kalau melihat bak dan gayung yang hitam-hitam. Hiiii.....Toilet di pom bensin atau di lokasi wisata, semuanya sama saja joroknya.

3. Kondisi jalan masih ada beberapa ruas jalan yang jelek, sehingga antri cukup lama. Tak terbayang bagaimana kalau musim liburan atau lebaran. Menuju Pangandaran pun jalannya tidak terlalu lebar. Padahal Pangandaran termasuk alternatif utama bagi penduduk Bandung. Kalau saja ada jalan tol menuju Pangandaran, tentu daerah ini akan lebih berkembang.

4. Kebersihan di semua lokasi wisata.
Sungguh menyedihkan kalau melihat lokasi wisata ini. Sampah plastik bekas bungkus makanan paling banyak. Benar-benar tidak bisa sayang dengan potensi wisata yang demikian besar. Di Pangandaran saja saya melihat human shit !!!. Situ Bagendit apalagi. Kalau yang agak bersih seperti Situ Gede, alasannya sederhana, karena pengunjungnya kurang. Tempat sampah yang disediakan pun tidak banyak. Saya sampai harus menenteng sampah sampai pintu keluar untuk membuangnya.

5. Informasi mengenai potensi wisata. Hal ini juga masih ada ruang untuk diperbaiki. Seharusnya, ada informasi mengenai jarak, waktu tempuh, alternatif transportasi, dll. Termasuk kalau mau lebih jauh lagi, tiket masuk, jam buka, rekomendasi berapa lama untuk menikmati, makanan setempat, dan banyak lagi...

Saya berkhayal, andaikan punya kesempatan untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, ingin rasanya mengelola tempat wisata. Saya yakin dengan keindahan alam yang unik di setiap tempat, maka secara perhitungan bisnis, akan mendatangkan banyak keuntungan. Tapi yang lebih jauh lagi, sayang rasanya kalau di-sia-sia-kan dan kurang dimaksimalkan. Tapi bagaimana caranya ya ? Hmmm…. pada akhirnya khayalan tinggal khayalan saja….


 

Related Titles

Banner
Advertorial