Cantiknya Situs Muara Jambi

Kalau saya gak cerita tentang cantiknya obyek wisata yg satu ini, rasa bersalah saya gak kurang2. Setelah dapat banyak saran utk mengunjungi Candi Muara Jambi dari JSers, maka inilah yg menjadi target utama jalan-jalan saya ke Jambi. Ceritanya saya bagi dua karena ingin meng-update kondisi jalan yg saya lewati kemarin itu juga.

Berangkat tengah hari setelah perayaan Jumat Agung dari kota Jambi, kami langsung menuju daerah Muara Jambi yg letaknya kira2 1 jam perjalanan jauhnya. Perjalanannya menyenangkan karena jalan mulus dan saya sangat menikmati pertemuan2 dgn sungai Batanghari dan rumah2 penduduk khas Jambi yg baru ini saja saya lihat. Menyeberangi jembatan panjang yg membelah sungai Batanghari berarti sedikit lagi kami akan memasuki daerah yg kami tuju. Benar saja, tak lama kemudian kami disambut oleh gapura besar penanda daerah ini. 

Berjalan sedikit kami lalu berhenti di depan deretan kios buah yg berjajar di sebelah kiri jalan. Rupanya sang supir mau menanyakan kondisi jembatan yg akan kami lewati nanti. Katanya, beberapa minggu lalu ia tak bisa melewati jembatan itu karena rusak. Untung saja kabar baik yg kami dengar siang itu. Lantas pak supir membelokkan mobil ke sebuah jalan tak seberapa besar tepat di seberang kios2 buah. Saya membaca penunjuk jalan kecil saja bertuliskan "Candi Muara Jambi 20km". 

Rupanya jalan ini adalah jalan alternatif yg menurut pak supir adalah jalan pintas. Walau begitu, jalan ini termasuk mulus dan mudah dilewati. Kami masuk ke sebuah desa bernama Danau Kedap. Kami pun bertemu dgn jembatan kayu dikuatirkan tadi. Tampaknya tdk meyakinkan utk dilewati mobil apalagi kalau bermuatan 8 orang seperti keadaan kami saat itu. Kami semua turun dari mobil dan mengira-ngira apakah jembatan tersebut bisa kami lewati. Pak supir bahkan mengambil sebuah balok kayu untuk menutupi celah yg cukup lebar antara jalan dgn jembatan. Setelah yakin, mobil pun melewati jembatan dgn sangat pelan sementara kami semua masih di luar mengamati jembatan. Syukurlah jembatan tadi cukup kuat. Kami segera kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan. Setelahnya kami masih menemui 2 jembatan kayu lagi dan dapat kami lewati tanpa harus turun dari mobil walaupun tetap terlihat kurang meyakinkan.

Tak berapa lama kemudian kami melewati jalan yg berlapis tanah merah liat yg padat. Kalau hujan turun, jelas kami bisa terjebak di situ. Jalan tanah ini kira2 3km panjangnya. Lepas dari situ kami bertemu dgn pertigaan dgn jalanan yg mulus kembali. Rupanya pertigaan tadi adalah pertemuan dgn jalan utama menuju situs ini. Tapi setelah kira2 1km, jalanan tak lagi mulus malah bisa dibilang rusak sepanjang 5km. Memang sebaiknya gunakan mobil yg tinggi utk bisa mudah melewati jalan2 ini. Jalanan kembali bagus tapi menyempit hingga kami masuk ke situs muara jambi. Sempat terlewati tadi petunjuk jalan menuju Candi Kedaton. Hanya saja, jalanan itu hanya bisa ditempuh dgn berjalan kaki. Kami lewati saja karena ragu2 tak paham betul daerah itu dan kerepotan parkir mobil di jalan yg sempit.

Kami memasuki jalan masuk menuju situs ini. Tidak ada terlihat pos penjagaan utk pengunjung. Tapi, kemudian muncul seorang yg memegang tiket dari sebuah rumah. Setiap orang dewasa membayar Rp.1500. Saya sudah tak sabar ingin melihat dari dekat candi yg berwarna merah bata. Ketika melewati gerbang, mobil segera diparkir tapi mata saya sudah nempel ke candi yg terlihat dari jauh. Terlihat cantik sekali persis seperti foto-fotonya di internet.

Tempat ini disebut situs karena ternyata ada 3 candi yg terdapat di situ dan 1 telaga yg juga memiliki nilai sejarah. Ditambah lagi candi Kedaton yg sudah saya lewati tadi. Telago Rajo ini dituliskan sebagai tempat para raja mandi. Bentuknya seperti kolam persegi alami sebesar kolam renang ukuran olimpiade. Airnya tak lagi penuh dan terlihat keruh. Saya tak bisa membayangkan seperti apa telaga ini dulunya saat raja2 bisa mandi di situ. Pastinya lebih cantik dari yg sekarang. 

Dua candi yg besar dan tinggi adalah Candi Gumpung dan Candi Tinggi. Satu candi terletak jauh di belakang yaitu Candi Kembar. Menurut yg saya baca, situs ini merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya sehingga corak Hindunya lebih kuat.Tapi ada juga yg mengatakan kalau candi ini memiliki pengaruh Buddha juga. Candi Gumpung dan Candi Tinggi dibangun dgn bata merah kecoklatan. Tinggi dan besarnya tidak seberapa hanya kira2 belasan meter saja. Tidak saya temukan relief2 atau patung2 pada candi ini kecuali satu patung kepala singa bak pengawal di Candi Gumpung. Kata saudara saya yg pernah ke situ, patung singa itu tadinya dua buah. Walaupun begitu, tetap saja saya bilang candi2 ini cantik. Merahnya bata berpadu kontras dgn rumput2 hijau membuat saya tak bosan melihat.

Puas menjelajah ke setiap sisi candi, kami berjalan menyusuri jalan setapak menuju Candi Kembar. Jaraknya kira2 200m dari komplek candi di depan. Sepanjang jalan setapak kami melewati pohon2 coklat yg ditanami rapih serta pohon2 tinggi yg membuat udara panas menjadi teduh. Jalan setapak kemudian berujung di pagar Candi Kembar. Candi ini lebih aneh lagi menurut saya. Tingginya hanya 1m saja dan tidak ada hiasan sama sekali. Bahkan ada satu tumpukan batu bata merah yg tidak jelas bentuknya. Entah itu reruntuhan candi atau bangunan yg belum jadi. Kami tak berlama-lama di situ dan segera kembali ke depan. Kami pun pulang dengan rute yang berbeda. Semua sepakat kalau lebih aman lewat jalan utama saja.

Tempat ini sungguh layak utk jadi obyek wisata seperti candi-candi di Jawa Tengah. Bagi saya yg pergi dgn membawa anak2, ada pendopo2 utk duduk2 dan beristirahat. Malah saya melihat ada guest house juga. Anak2 pun senang bisa berlari-lari di atas rerumputan yg lapang. Yang perlu dibenahi adalah jalan-jalan menuju ke situs ini hingga akan lebih banyak orang lagi yg tertarik. Dengan begitu, promosi pun akan lebih mudah lagi. 

Foto-foto bisa dilihat di: http://meyone.multiply.com

Salam,

Mey


 

Related Titles

Banner
Advertorial